Sejarah Krueng Pasee

Oleh Adly Jay Lanie

Krueng Pasee adalah salah satu sungai terpanjang di Aceh, yang terbentang dari Kabupaten Bener Meriah (hulu) sampai pesisir pantai Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Sungai yang bermuara ke Selat Malaka itu, selain memiliki rekor yang sangat panjang (ratusan kilometer) juga memiliki arus yang sangat ekstrim.

Banjir bisa datang dengan tiba-tiba tanpa kenal waktu. MIisalnya di kawasan hilirnya (Aceh Utara) dalam kondisi cuaca cerah, tapi banjir tetap terjadi. Sebab, di kawasan hulunya yakni di Kabupaten Bener Meriah dikenal memiliki curah hujan sangat tinggi sedang dilanda hujan.

Kearifan Lokal: Antara Fakta atau Mitos

Pun demikian, bagi penduduk lokal yakni masyarakat Mbang, Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara sudah sangat paham dengan fenomena alam di kawasannya tersebut. Karena lazimnya alam memang selalu memberikan tanda, meski terkadang hanya manusia tertentu saja dan binatang yang mampu memahaminya.

Sejak turun-temurun, orang Mbang sudah diajarkan oleh Indatu-nya (moyang) tentang Lageuem atau tanda-tanda alam yang menjadi petunjuk jika Krueng Pasee akan mengalami banjir.

Lageuem tersebut hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat Mbang asli. Biasanya, Lageuem itu berupa suara guntur yang saling sahut menyahut antara hulu di Danau Laut Tawar dan muara di Selat Malaka Krueng Pase.

Berdasarkan penuturan orang tua Mbang zaman dulu, sebelum hulu Krueng Pasee mengirimkan banjir ke muara, sang penjaga pintu air yang diriwayatkan sebagai seekor naga raksasa menanyakan terlebih dahulu kepada penguasa muara, apakah dia siap menampung tumpahan milyaran galon air bah tersebut atau tidak. Jika siap ditampung, maka akan dikirim dan begitu juga sebaliknya.

Karena lazim juga terjadi, ketika intensitas hujan sangat tinggi di hulu, namun Krueng Pasee tidak juga banjir. Itu karena dari Lageuem yang terdengar, adanya ketidak-siapan penguasa muara untuk menerima tumpahan air.

Bila diperhatikan dengan seksama, memang ada perbedaan ritme Lageuem yang saling sahut-menyahut tersebut, baik ketika sang penguasa muara siap menerima banjir maupun ketika tidak. Dan Lageuem itu sudah menjadi pegangan (semacam sandi) bagi masyarakat Mbang asli secara turun-temurun hingga kurun tahun 90-an, meski generasi saat ini sudah banyak yang tidak lagi paham dan mengingatnya.

Kisah adanya sepasang naga yang menguasai Krueng Pasee bukan hanya isapan jempol semata. Terakhir pada tahun 2008, saat beberapa Kecamatan yang menjadi lintasan Krueng Pasee dilanda banjir yang cukup parah, beberapa warga Kecamatan Geureudong Pase yang sedang memancing secara tidak sengaja melihat sepasang bola mata yang menyala didalam DAS Krueng Pase, dari arah hulu menuju hilir bergerak turun mengikuti arus banjir.

Kejadian tersebut menjadi perbincangan secara luas di kalangan masyarakat di sana yang dipercaya sebagai seekor naga jantan penunggu hulu Krueng Pasee yang hendak menjumpai betinanya di muara untuk kawin, sebagaimana penuturan para leluluhur dahulu.

Konsistensi penduduk tempatan dalam memegang dan mempercayai Lageuem banjir Krueng Pasee tersebut persis seperti kepercayaan masyarakat Kepulauan Simeulu terhadap fenomena Smong yang kini lebih dikenal sebagai Tsunami oleh masyarakat Aceh dan dunia pada umumnya.

Kepercayaan tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab –disamping karna Kuasa Allah SWT tentunya– sehingga masyarakat di kedua daerah ini banyak yang terselematkan dari fenomena alam di kawasannya masing-masing.

Pantangan dan Larangan yang Dipercaya Masyarakat Setempat 

Dulu tidak sembarang orang berani menjelajah Krueng Pases tanpa didampingi oleh Pawang Krueng, seorang Tokoh Adat yang dipercaya sangat paham dengan seluk beluk sungai.

Namun seiring perkembangan zaman, ketika kawasan hulu Krueng Pase sudah mulai dirambah oleh pihak masyarakat dan swasta untuk digarap sebagai lahan perkebunan, keangkeran Krueng Pasee pun terkikis dengan sendirinya sehingga eksistensi seorang Pawang Krueng pun menjadi terdegradasi dengan sendirinya.

Meski demikian, ada beberapa hal yang mesti dipahami, dijaga dan dihindari tatkala hendak bersinggungan dengan Krueng Pase yang juga masih dipegang oleh sebagaian masyarakat setempat hingga saat ini, diantaranya:
1. Tidak boleh ria di Krueng Pasee.
2. Tidak boleh takabbur dan menganggap diri paling hebat dan paham keadaan di sana.
3. Tidak boleh rakus dalam mengambil hasil sungai, yakni ikan pada umumnya.
4. Krueng Pasee juga diyakini selalu meminta korban setiap tahunnya.
5. Bila sudah mendung atau mendengar suara guntur, apalagi disertai hujan di arah barat, maka lekaslah menjauh dari area sungai, kecuali sudah paham benar dengan Lageuem tadi.
6. Dan masih banyak hal-hal lain yang dianggap tabu dan menjadi kepeecayaan penduduk setempat.

Jika beberapa hal-hal diatas sengaja dilanggar, maka resikonya sangatlah besar, bisa-bisa nyawa menjadi taruhannya.

Bukti nyata sudah banyak yang terjadi seperti orang tenggelam atau terseret banjir, dan ada juga kenderaan pengangkut batu atau yang sekedar dicuci di sungai yang hanyut.

Dan kejadian yang paling anyar adalah hanyutnya seorang crosser, Anggota Komunitas Motor Trail yang terjadi pada Selasa (28/03/2017) dan jenazahnya baru ditemukan tadi pagi oleh masyarakat saat memancing.

Sekedar untuk diketahui juga bahwa dari hasil ekspedisi beberapa Tetua Kampung di Geureudong Pase, Krueng Pasee tidak memiliki hulu yang langsung bisa terlihat oleh mata telanjang. Sumber airnya keluar dari sela-sela gunung yang diyakini sebagai bagian dari air Laut Tawar di Takengon, Aceh Tengah.

Bahkan ada kepercayaan masyarakat terdahulu, jika air Krueng Pasee sudah kering, maka dunia ini sudah memasuki tanda-tanda kiamat. Tentu saja penuturan tersebut bukanlah suatu dongeng atau Hoax.

Potensi Krueng Pasee yang Diabaikan Pemerintah 

Sampai saat ini Krueng Pasee masih menjadi penyangga terhadap puluhan ribu warga di Aceh Utara, baik yang menggantungkan hidupnya sebagai petani maupun nelayan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih pun mereka bergantung pada sungai ini, yang berdasarkan penelitian ilmuan Belanda pada kurun 1980-an, air Krueng Pasee dinyatakan aman dikonsumsi meski tanpa dimasak.

Lebih dari setengah populasi petani sawah di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara menggantungkan harapan mereka pada sungai ini, agar sawah mereka bisa terisi air.

Penuturan para orang tua zaman dulu, bahwa jika air Krueng Pasee sudah kering maka dunia ini sudah memasuki fase kiamat kini memang mulai terbukti. Debit air di Krueng Pase sudah kian menyusut saat musim kemarau. Hal ini tidak terlepas dari sikap pemerintah yang secara sembrono mengeluarkan HGU kepada perusahaan Kelapa Sawit milik swasta di kawasan hulu sungai ini. Bahkan, perusahaan tersebut dibiarkan menanam kelapa sawit hingga 0 meter dari sempadan sungai.

HGU yang diberikan kepada PT. Satya Agung sejak tahun 1980-an itu pun tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 13.000 Hektare lebih. Ironisnya, setelah HGU tersebut mati, sejak 5 tahun terakhir Pemerintah Aceh yang kini dikuasai oleh Awak Droe Teuh pun memberikan izin untuk diperpanjang tanpa proses yang jelas serta tidak melibatkan pemangku adat setempat.

Maka kiamatlah buat masyarakat yang bermukim di sepanjang DAS Krueng Pasee tersebut. Kini selain sawah-sawah mereka kekurangan air, sumur-sumur mereka pun sudah mulai kering.

Disamping itu, saban tahun Pemkab Aceh Utara juga harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk penanganan dampak banjir. Usulan pembangunun sumur bor dan peninggian tebing sungai pun membludak setiap musim Musrenbang Kabupaten. Padahal, potensi Krueng Pasee ini sanga besar bila semua pihak sepakat untuk menjaganya. Mulai dari potensi irigasi, Pembangkit Listrik Tenaga Air, Wisata Outbound, Wisata Arung Jeram, lumbung ikan air tawar khas Aceh (Keureulieng, Ileh, Keubaree, Landôk, dll), dan masih banyak potensi lainnya, yang bisa digarap untuk memenuhi segenap kebutuhan masyarakat serta sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aceh Utara.

Namun apa lacur, semuanya sudah dirusak oleh kebijakan yang kebablasan dari beberapa oknum serakah. Kini kita hanya bisa menikmati fase kiamat itu berjalan di depan mata, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Semoga Pemimpin Aceh Utara dan Aceh kedepan, mau membuka mata hatinya.

 

Sumber: Adly Jay Lanie

Editor: Pilo Poly