Guru Telat dan Komite Sekolah

Ilustrasi. (Foto: @sdn11indarung.mysch.id)

Oleh Edi Miswar Mustafa

Sekolah adalah tempat anak negeri melihat hal-hal baik. Satu dari sekian hal baik tersebut yaitu keteladanan. Terus-terang, sebagai guru di sebuah sekolah menengah atas di Pidie Jaya, saya merasa ‘gimana gitu’ karena setiap pagi harus melihat rekan-rekan guru yang saban pagi datang terlambat.

Memang, memasalahkan perkara terlambat, walaupun hal tersebut salah satu dari sekian hal-hal yang harus diteladani para siswa, bukan perkara gampang. Konon lagi saya hanyalah seorang guru semata. Mungkin, jangankan saya, kepala sekolah saja selaku pimpinan di satu sekolah akan mendapatkan perlawanan secara diam-diam dari para guru ahli telat.

Namun, meskipun begitu, ihwal ini menurut saya amat mendesak untuk dibicarakan. Sebagai orang Islam harusnya dapat mewujudkan prinsip iman bahwa selemah-lemah iman bila membenci kemaksiatan dalam hati. Saya tidak dapat menangani para guru yang terlambat dengan ‘tangan’ atau ‘kekuasaan’, tapi saya masih punya ‘lisan’, sebelum benci dalam hati.

‘Lisan’ sebagai bentuk kesadaran iman, dapat digunakan saat rapat. Sampaikan mengenai perihal kebiasaan tidak baik para guru dengan lisan yang terjaga. Artinya, lisan yang tidak menuju ke satu orang, tapi kepada seluruh guru, termasuk diri sendiri, diawali ucapan mohon maaf.

Di samping dalam rapat, lisan dalam bentuk tulisan juga dapat diterapkan dalam model slogan di beberapa tempat, khusus di dalam kelas, dan kantor guru, dengan slogan-slogan seperti: guru yang baik selalu datang tepat waktu: datanglah lebih awal ke sekolah dan pulanglah sedikit terlambat. Insya Allah surga menunggumu wahai guru: dan lain sebagainya.

Tentu setelah dua hal ini kita upayakan, satu-dua rekan akan menjadi musuh. Bukan prasangka buruk, tapi prediksi alakadar, efek dari keinginan baik kita juga harus diperkirakan. Bila kemudian muncul muka-muka masam, anggap saja si polan sedang tidak enak tidur akibat ini atau akibat itu. Bila ada yang mencari-cari kesalahan kita, upayakan kita tak pernah melakukan kesalahan. Atau, minimal jika memang kita terbukti berbuat keliru, yakinkan hati kita bahwa semua manusia itu tidak sempurna.

Upaya ini akan berhasil bila waktu tiga bulan dapat dijalankan. Guru-guru yang telat dan anak-anak harus di luar sekolah sampai pukul 08.30 WIB. Saat masuk, guru dan siswa, sesuai ketentuan rapat sebelumnya, mendapat tugas mengomandani para siswa mengutip sampah sampai setengah jam. Sekolah telah menyediakan karung sampah untuk sanksi ini. Lalu guru dan siswa yang telat diminta masuk ruang guru dan sekolah menyediakan minuman, minimal air mineral kemasan gelas. Jika sekolah lebih ingin ‘menghargai keterlambatan mereka’, sediakan mereka susu panas karena mereka telah menolong sekolah membersihkan pekarangan.

Sanksi satu paket dengan apresiasi. Guru-guru yang datang lebih cepat lima belas menit mendapatkan kain pakaian dua pasang saat sekolah ada rezeki lebih dan didahulukan dalam setiap pelatihan yang diadakan kabupaten atau provinsi. Atau, saat mereka menerima gaji, sertakan tulisan ketikan: berapa kali Anda terlambat. Sama dengan nol. Bendahara harus mengingatkan saat mereka menerima gaji bahwa gaji memang diberikan negara, tapi terlambat datang mengajar membuat sebagian gaji tersebut menjadi haram.

Usahakan nasehat ini untuk yang tidak terlambat. Sebab, jika nasehat ini untuk yang terlambat, maka konflik sulit dihindari. Oleh karena itu, bendahara jangan melupakan tugas ini untuk yang tidak telat.

 

Kepala Sekolah

Kepala sekolah titik utama perubahan di satu sekolah. Setelah kepala sekolah adalah para wakil, kemudian wali kelas, guru tanpa tugas tambahan dan guru honor. Kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menyukseskan segala kebaikan di sekolah. Kepala sekolah harus menjadi suri tauladan bagi kolega-koleganya yang lain.

Dulu, sewaktu PPL di SMA 5 Darussalam, saya pernah melihat kepala sekolah terlambat. Beliau juga harus menunggu di luar pintu pagar sampai pintu pagar sekolah dibukakan. Di saat yang lain, saya juga melihat mobil beliau sudah terparkir di depan pintu masuk kantor kepala sekolah. Dan, pemandangan ini lebih sering. Ketika itu beliau telat, saya yakin, beliau hanya pura-pura. Dari dalam mobil tentu saja beliau dapat melihat murid, dan khususnya guru mana saja yang datang terlambat ke sekolah.

Pura-pura terlambat ini saya rasa sangat efektif. Saat dibukakan pintu pagar sekolah, kepala sekolah, guru telat, dan murid telat sama-sama mengutip sampah atau memberi komando mengutip sampah sampai pakaian basah oleh keringat. Ketika upacara hari Senin, kepala sekolah mengatakan bahwa sejujurnya beliau sengaja datang terlambat — beliau memang tidak pernah datang terlambat — ke sekolah demi merasakan betapa tidak menyenangkan harus berdiri di luar pagar sekolah, sementara masyarakat yang lalu-lalang di depan sekolah dapat melihat rombongan guru dan murid yang terlambat.

Di samping upaya di sekolah sendiri, melalui MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), kepala sekolah dapat menceritakan keinginannya terwujud dengan sekolah-sekolah lain. Melalui MKKS, peran masyarakat dapat dilibatkan secara efektif dalam pendidikan. Ketua komite tiap-tiap sekolah diberikan pelatihan tentang peran, fungsi, dan tugas komite sekolah dalam dunia pendidikan. Peran komite dalam dunia pendidikan sebenarnya sama dengan peran masyarakat ketika diharapkan kepolisian dalam upaya ketertiban, keamanan, dan memperkecil ruang lingkup narkoba.

Melalui komite sekolah, para wali/masyarakat memahami peran, fungsi, dan tugas komite. Paling tidak, melalui komite sekolah, para orangtua membantu mengontrol anak-anaknya: apakah roster sekolah tidak ditempel di dinding kamar, apakah anak saya tidak mengganti buku catatan dan PR per hari sehingga si anak membawa buku ke sekolah, dari pelajaran hari Senin sampai pelajaran hari Sabtu. Atau, setidak-tidaknya, para orangtua membuang jauh-jauh pemahaman atau anggapan bahwa tugas guru-gurulah yang mencerdaskan anak-anak saya.

Jika ini berhasil, keterlibatan masyarakat dalam pendidikan dapat dilakukan lebih intens. Masyarakat dapat menanyakan kepada para siswa yang masih di luar sekolah pada waktu jam pelajaran: mengapa berkeliaran di luar sekolah? Bila jawaban para siswa diragukan kejujurannya, masyarakat dapat mengonfirmasi langsung ke sekolah bersangkutan. Artinya, nomor telpon setiap kepala sekolah harus tertera di banyak tempat. Apalagi jika para siswa kedapatan merokok dan ditemukan di warung internet pada jam sekolah.

Namun, seperti yang saya sampaikan di awal tulisan singkat ini, keterlibatan masyarakat baru dapat dilaksanakan manakala para guru sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Minimal seorang guru tidak lagi terlambat datang ke sekolah saat pelajaran pertama dimulai.

 

Edi Miswar Mustafa adalah seorang guru di Pidie Jaya.