Komunikasi Islami sebagai Amar Makruf Nahi Mungkar

“Memilih kata yang tepat juga harus diperhatikan untuk menentramkan para pembaca dan pendengar sehingga nilai komunikasi Islami dalam menyebarkan amar makruf dan nahi mungkar bisa terwujud.”

 

MANUSIA adalah makhluk yang berkomunikasi dalam setiap aktivitasnya. Karena komunikasi merupakan bagian yang utuh dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Dewasa ini, umat manusia menjadikan media sebagai alat komunikasi tekhnologi, terutama untuk kebutuhan informasi.

Pesatnya perkembangan tekhnologi, menawarkan ragam pilihan alat untuk para pengguna. Mulai dari harga yang terjangkau, mudah dibawa kemana-mana hingga berkemampuan mengenggam dunia hanya dalam satu tangan.

Pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan. Tahun 1998 hanya 500 ribu orang. Namun, pada tahun 2012 pengguna internet meroket menjadi 63 juta orang. Angka itu bahkan terus meninggkat menjadi 139 juta orang pada tahun 2015 (wikipedia).

Bisa dipastikan, angka ini akan terus melonjak seiring dengan pertumbuhan anak yang melek dengan internet. Balita penggemar gadged menjadi fenomena baru sebagai alat permainan untuk para kanak-kanak.

Membiarkan kanak-kanak bermain dengan gadged bukanlah pilihan yang tepat. Pengawasan orangtua sangat penting terutama saat anak bermain game online. Ada banyak permainan yang mengandung unsur kekerasan, penyimpangan seksual hingga pornografi. Konten yang tidak sesuai dengan budaya turut terselubung dalam iklan, terlebih bagi pengguna aplikasi adroid.

Sosial Media

Baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa nomor 24 tahun 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial.

Fatwa ini berawal dari kekhawatiran maraknya ujaran kebencian dan permusuhan yang beredar luas disosial media. Ada sebelas poin penting dari keputusan hukum berdasarkan syariat islam, diantaranya haram melakukan gibah, fitnah, namimah, bullying. Begitu juga dengan penyebaran informasi bohong (hoaks), gosip, menyebarkan konten pribadi kekhalayak serta profesi yang memperoleh keuntungan dengannya maka diharamkan.

Tingginya pengguna sosial media berkorelasi dengan mudahnya penyebaran informasi, sayangnya informasi negatif justru menjadi lebih dominan dibanding sebaliknya. Ada kecenderungan pola 10 to 90, artinya sepuluh orang yang membuat konten akan disebarkan oleh 90 orang lainnya. Mudahnya menyebar informasi karena pengguna meyakini bahwa konten tersebut benar sehingga merasa perlu untuk disebarluaskan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melaporkan, terjadi peningkatan yang signifikan terhadap laporan konten negatif. Jumlahnya mencapai 25 ribu lebih aduan, umumnya berisi tentang radikalisme, SARA, pronografi dan penipuan online.

Sementara ada penurunan dalam penyebaran berita palsu (hoaks), diyakini karena ada gerakan dari masyarakat yang berani mengingatkan bila mendapat berita yang belum jelas kepastian dan sumbernya. (tekno.liputan6.com).

Searah dengan Fatwa MUI, pemerintah terlebih dahulu merumuskan kebijakan penting dalam penggunaan berbagai media komunikasi dengan menggunakan media internet. Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE). Aturan ini mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang memnafaatkan internet sebagai medianya, baik transaksi maupun pemanfaatan informasinya.

Komunikasi Islami

“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS. Al-Hajj:30). Maraknya media sosial berujung pada menyebarnya ragam informasi yang tidak terbendung mengakibatkan buramnya keabsahan dan nilai dari informasi tersebut.

Penyebar dan penerima sama-sama tidak mengetahui secara pasti apakah info tersebut benar, layak dipercaya, bukan dusta. Lebih parah, pengguna sosial media menyebar bermacam informasi, padahal dia sendiri tidak memahami apa makna pesan yang terkandung didalamnya.

Ayat Al-Quran yang lain menyebutkan “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka perikasalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujarat;6).

Penyebar informasi asal-asalan oleh Al-quran disebut sebagai orang fasik. Selaku hamba Allah, kita diminta untuk melakukan tabayyun jika mendapat satu informasi.

Tabayyun bermakna meneliti, menseleksi, menguji kebenaran, mencari kejelasan dari setiap kabar yang diterima. Tidak mudah terpancing untuk ikut-ikutan dalam menyebar setiap info yang diterima.

Bukan tidak mungkin, karena sesatnya informasi yang kita sebarkan menyebabkan perpecahan di antara umat, konflik antar golongan bahkan bisa berujung pada perang.

Satu kata, ibarat ribuan mata pedang siap menghunus kapan saja dan dimana saja. Memilih kata yang tepat juga harus diperhatikan untuk menentramkan para pembaca dan pendengar sehingga nilai komunikasi Islami dalam menyebarkan amar makruf dan nahi mungkar bisa terwujud.[]

Penulis adalah Teuku Zulyadi, Alumnus SMU 1 Meureudu angkatan 2001. Saat ini, ia tengah menempuh program Doktoral di kota Wuhan, China.