Teungku Iswadi Laweung Isi Pelatihan Pendidikan Kader Ulama

KPJ, SIGLI — Al-Quranul karim sebagai kitab suci umat Islam, di dalamnya terdapat sekitar 500 Ayat Ahkam. Para ulama di sini juga berselisih pendapat sebagian menyebutnya sekitar 150 Ayat dan ada juga yang mengatakan 200 dan 228 Ayat. Sehingga dapat di simpulkan jumlah Ayat Ahkam tidak kurang dari 500 ayat yang membahas tentang hukum.

Hal tersebut disampaikan Teungku Iswadi Arsyad, atau akrab di sapa Abah Iswadi Laweung dalam pelatihan Pendidikan Kader Ulama (PKU) Pidie yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) kabupaten Pidie di Aula kantor tersebut, Kamis, (27/7/2017).

“Dalam Al-Quran para ulama berbeda pendapat jumlah Ayat Ahkam, ada yang menyebutnya 200 Ayat, ini seperti yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. Sedangkan menurut Syekh Ibn al-Arabi dalam kitab “Ahkam al-Quran” sebanyak 400 Ayat. Syekh Abdul Wahhab Khallaf, jumlahnya menyebutkan sekitar 228 Ayat. Bahkan jika pendapat Syeikh Thantawi Jawhari lebih kurang 150 Ayat. Sementara itu Imam al-Ghazali beliau berpendapat sekitar 500 Ayat. Berdasarkan argument tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa ayat hukum tidak lebih dari 500 Ayat,” ujar guru senior dayah MUDI Masjid Raya Samalanga dalam siaran tertulisnya kepada Kabarpidiejaya.com, Kamis (27/7/2017).

Abah Iswadi dalam syarahannya juga memaparkan ayat-Ayat Al-Qur’an yang berhubungan berbagai bidang dengan mengutip pendapat Syekh Abdul Wahhab Khallaf.

“Dalam Al-Quran menjelaskan bahwa ayat yang menyangkut dengan ibadah, sebanyak 140 Ayat, mengatur ahwal syakhsyiyah, sebanyak 70 Ayat, jinayah, 30 Ayat dan berhubungan dengan perdata, sebanyak 70 Ayat, hubungan Islam dan bukan Islam, sebanyak 25 Ayat, hukum-hukum acara, sebanyak 13 Ayat, mengatur keuangan negara dan ekonomi 10 Ayat. Sedangkan mengenai hubungan kaya dan miskin, sebanyak 10 Ayat,” jelas kandidat master komunikasi IAIN Malikussaleh Lhokseumawe itu.

Beliau juga menguraikan sejarah tafsir Ayat Ahkam pada masa sahabat. Satu hal yang patut dicatat bahwa sahabat-sahabat yang paling menonjol pada periode kedua setelah nabi SAW dibidang tafsir ayat-ayat hukum ada tiga tokoh, yaitu Abdullah bin Mas’ud ra, Abdullah bin Umar ra dan Abdullah bin Abbas ra.

“Ketiga tokoh besar di atas telah menancapkan pengaruh-pengaruhnya pada murid-murid mereka, maka bermunculanlah jebolan pertama sekolah-sekolah tafsir Al-Qur’an, khususnya ayat-ayat hukum, seperti sekolah Tafsir Ayat-Ayat Hukum Kufah diprakarsai oleh murid-murid Ibn Mas’ud. Sedangkan di Madinah dimotori oleh murid-murid Ibn Umar dan sekolah Tafsir Ayat-Ayat Hukum Makkah di pelopori oleh murid-murid Ibn Abbas. Para alumni sekolah-sekolah inilah yang kemudian menginsfirasi lahirnya sekolah-sekolah tafsir modern, khususnya ayat-ayat hukum, dan telah mengeluarkan alumni-alumni terbaiknya yang ahli bidang hukum Islam hingga sekarang,” lanjut pengasuh majelis ta’lim wilayah Pidie dan Bireun tersebut.

Dalam diskusi yang hangat tersebut, Abah Iswadi Laweung juga memberikan contoh dalam makalahnya tentang tafsir Ayat Ahkam seperti kewajiban niat wudhu’, mazhab Syafi’I dan Maliki menyebutkan wajib niat wudhu’ sedangkan para ulama mazhab Hanafi tidak wajib.

“Pendapat Hanafiyah, mengatakan tidak wajib hukumnya niat kecuali pada amalan fardu yang dimaksudkan dan janganlah menjadikan syarat untuk selainnya, adapun yang menjadi syarat untuk shahnya amalan tertentu maka tidak diwajibkan niat padanya yang setara dengan amalan yang diperintahkan itu kecuali ada dalil yang menyertainya. Sedangkan thaharah itu syarat, maka orang yang tidak wajib shalat tidak dikenakan fardu thaharah, seperti orang haid dan nifas,” ulas ulama muda Pidie yang sangat aktif di dunia dakwah itu.

Beliau juga menambahkan, kebanyakan Ulama Maliki dan Syafi’i wajib niat wudhu’ dengan berargumen dengan firman Allah SWT: “Apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat, maka basulah mukamu”, maka ketika Allah mewajibkan membasuh maka adalah niat telah menjadi syarat pada shahnya perbuatan itu, karena fardu dari sisi Allah haruslah menjadi wajib pada amalan yang diperintahkan Allah dengannya. (HA)