Urgensi Gotong Royong Dalam Perspektif Agama dan Budaya

Oleh: Fuadi Abu Bakar
Bangsa kita sebagai orang timur dan khususnya dalam dekade sejarah, sejak dulunya masyarakat pedesaan dan gampong mempertahankan gotong royong, dalam beberpa bulan sekali, namun seiring berjalannya waktu, dan masuknya budaya barat yang lebih mendorong masyarakat berkeinginan untuk ketidakmauan meninggalkan masalah perekonomian setelah masuknya masa industrialisasi, serta kesibukan masyarakat dengan menomorsatukan kepentingan pribadinya, lambat laun budaya gotong royong akan menipis.

Tradisi gotong royong yang menipis ini, termasuk dalam teori evolusi (evolutionary theory), seperti pendapat Emile Durkheim (1858-1917) bahwa perubahan karena evolusi mempengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja. Dan pendapat Ferdinand Tonnies (1963) bahw amasyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif, menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang terspesialisasi dan impersonal.

Dalam mengerjakan sebuah pekerjaan yang di targetkan dalam tempo yang lama maupun singkat umpamanya, namun dengan gotroy (gotong royong) dalam tempo yang singkat lebih telah selesai. Inilah salah satu keuntungan dari kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama (gotong royong). Dalam Islam pun nilai gotong royong sangat di anjurkan. Membuka lembaran sejarah bagaimana kaum ansar yang tanpa pamrih membantu segala sesuatu untuk kaum muhajirin.

Dalam perspektif Al-Quran sendiri Allah menyuruh kita untuk saling membantu dalam kebaikan dan melarang tolong menolong dalam maksiat.Ini di sebutkan dalam surat Al-Maidah:”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. al-Mâidah:5:2).

Di samping itu baginda Rasulullah Saw juga menjabarkan pentingnya gotong-royong untuk membangun kekuatan kaum muslimin dan menegakkan kemuliaan agama Islam pada suatu daerah. Sebab Islam merupakan ajaran penuh dengan kebaikan. Senantiasa mengajarkan berfikir positif dan berusaha untuk berlaku baik terhadap sesama manusia lainnya.

Paparan diatas Sehingga, tepatlah wasiat Nabi saw berbunyi:”Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim).

Semangat Gotroy
Semangat gotong royong jauh sebelumnya dalam lintasan sejarah telah di praktekkan oleh semut dan kerajaannya pada masa nabi Sulaiman, cerita tersebut diabdaikan dalam Al-Quran tepatnya pada surat An-Namlu dan ini sangat selaras sekali dengan semangat Gotong Royong (Gotroy), bunyi ayat tersebut yaitu:”Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.(QS. An-Namlu: 18).

Dalam perspektif ahli tafsir Quraisy Syihab, beliau menyebutkan dalam tafsirnya bahwa berdasarkan dari ayat di atas dapat dipahami bahwa semut adalah jenis hewan yang hidup bermasyarakat dan berkelompok. Di antara hal-hal unik yang merupakan keistimewaan hewan jenis ini, antara lain, adalah ketajaman indera dan sikapnya yang sangat berhati-hati.

Dalam masyarakat semut dikenal etos kerja dan disiplin hidup berkelompok yang tinggi. Semut juga mempunyai tingkat kecerdasan dan kekuatan ingatan yang cukup tinggi, gemar bekerja keras dengan tingkat kesabaran yang tinggi pula, di samping merupakan hewan yang sangat cerdik dalam bekerja.

Qurasiy Syihab juga mengajak kita untuk harus mampu meneladani sosok semut dalam semangat gotroy dan hal ini terbukti bahwa masyarakat semut merupakan satu-satunya jenis binatang yang berpikir untuk menguburkan anggotanya yang mati, persis seperti manusia. Kelompok-kelompok semut sangat mementingkan untuk dapat saling bertemu di satu tempat dan dari waktu ke waktu.

Sementara itu untuk keperluan itu, mereka menentukan hari-hari tertentu yang sengaja dikhususkan untuk mengadakan pasar bersama, sebagai kesempatan untuk saling mengenal dan tukar menukar bahan makanan. Kelompok-kelompok semut itu, pada saat bertemu, saling bertukar omongan dengan penuh perhatian dan saling bertanya tentang keadaan masing-masing. (Tafsir Quraish Syihab).

Berangkat dari paparan di atas semoga semangat gotong royong yang telah lama dirintis oleh endatu kita sejak zaman nabi Sulaiman dan sudah mendarah daging dalam masyarakat, hendaknya harus kita lestarikan dan realisasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi perintah agama dan warisan budaya menuju hari esok yang lebih baik.(Ia/Ha)

* Fuadi Abu Bakar, Senior di PT. Takabeya Perkasa Group, Bireun, putra kelahiran Pidie