Adee Ie Leubeu dan Sejarah Endatu Yang Dilupakan

Oleh: Helmi Abu Bakar*
Kota Kembang Tanjung yang dulunya di kenal dengan Asan Kumbang, sebuah wilayah yang sangat strategis terletak di pinggiran selat Malaka. Tidak salahnya jika sosok proklamator Gerakan Aceh Merdeka sebagai tokoh paling di cari dan di buru pihak Republik Indonesia, itu berawal sejak 25 tahun menetap di Amerika, pada tahun 1976 untuk pertama kalinya Deklarator Gerakan Aceh Merdeka Hasan Tiro pulang ke Aceh. Hari itu ia tiba di Pelabuhan Kuala Tari, Pasi Lhok, Sebuah desa nelayan di Kecamatan Kembang Tanjong.

Wajar memang tempat ini menjadi satu-satunya lokasi paling aman sebagai jalur keluar masuk antar negara. Para pengikut beliau sangat banyak yang berasal dari kawasan ini. Daerah itu pula untuk menuju lokasi ini hanya ada satu jalan dan itu adalah satu-satunya sehingga tempat ini dianggap paling aman. 

Saat kita jelajahi, tidak Jauh dari tempat bersejarah yang kini telah “hilang” jejaknya saat para mengikuti Hasan Tiro tidak lagi peduli dengan lembaran sejarah yang bisa di rangkain dalam tulisan Dan di lestarikan sebagai “ibrah” (pelajaran), untung ada sosok pemuda tampan Haekal Afifa, walaupun bukan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berbekal ilmu di dayah sebagai santri namun terus menggali sejarah tersebut hingga lahir beberapa buku yang dapat di kaji dan di pelajari secara akademis serta penelitian selanjutnya.

Kita kembali ke Kuala Tari-nya, disana terdapat sebuah kampung yaitu Ie Leubeue. Kampung ini sangat terkenal dengan pasar Ie Leubeue. Pasar Ie Leubeue masih tergolong sangat tradisioanal dengan bangunan yang kebanyakan terbuat dari kayu bahkan kelihatan umurnya sudah sangat tua.

Keberadaan kota tua ” Ie Leubeu”ini terletak di tengah-tengah perkampungan pesisir kawasan paling sudut barat-laut Kecamatan Kembang Tanjong. Kalau kita ukur  tempat itu berjarak empat kilometer lebih kurang ke arah utara dari pusat pasar kecamatan atau sepuluh  kilometer ke arah kota Beureunuen.

Hiruk pikuk kota tua itu sudah di mulai semenjak subuh pagi. Namun menariknya di pasar Ie Leubeue ini selalu ramai di pagi hari, mulai setelah Subuh sampai pukul 10.30 WIB. Disana terjadinya berbaga aktivitas jual-beli masyarakat dilakukan di sini. Anda yang mendapatkan ikan segar, datanglah ketempat tersebut.

Namun berbagai kegiatan jual beli di pasar ini sangat beragam, bukan hanya ikan segar, dan aneka makanan seperti nasi, lontong, dan kue. Di balik itu ada yang unik dan khasnya kuliner yang paling di buru oleh fodies dan terkenal dengan Adee Ie Leubeu walaupun putue Ie Leubeu dan Kopie Boh manoek juga tidak luput dari incarannya.

Makyus Kue tersebut seakan bingkang yang kini populer dengan nama Adee Kak Nah masih jauh tertinggal. Kuliner itu masyarakat setempat biasa menyebutnya Ade Ie Leubeue namun masyarakat luar Kembang Tanjong sering menyebutnya Ade Kembang Tanjong. Hal ini di sebabkan berada di wilayah kecamatan itu. Kota tua bukan hanya populer dengan Adee nya sebagai konsumsi jasmaniah namun keberkahan pesisir Kota Kembang Tanjung itu turut di amini oleh doa waliyullah Teungku Syiek Dipasi yang maqamnya tidak jauh dari pasar yang terkenal itu.

Kita berharap pemasaran kue keuneubah endatu tersebut mampu di pasarkan secara manajemen yang baik seperti kuliner lainnya yang telah di kenal luas dalam masyarakat. Disini peran pemerintah dalam memperkenalkan aneka budaya Aceh lewat promosi Adee Ie Leubeu dan sejenisnya menuju destinasi budaya dalam perspektit parawisata.

*Helmi Abu Bakar, alumnus MAN Beureunuen, penggiat pendidikan dan keagamaan tinggal di Pidie Jaya.