Agus Wandi: Bahasa Inggris Kunci Utama Jika Anak Aceh Ingin Bersaing Secara Global

BANDA ACEH — Anak Aceh yang kini berkarier di PBB Agus Wandi menilai porsi Bahasa Inggris di sekolah dan universitas di Aceh mestinya ditambah. Menurutnya, lulusan Malaysia, Singapura, dan Philipina lebih dapat bersaing di level ASEAN dan dunia karena faktor bahasa. Dengan kamampuan bahasa Inggris yang lebih baik, anak-anak Aceh dapat selangkah lebih maju dari provinsi lain di Indonesia.

“Dengan menambah (porsi) Bahasa Inggris di sekolah dan universitas, Aceh bisa menang satu langkah dibanding lulusan sekolah tempat lain di Indonesia. Seperti tamatan Malaysia, Singapura atau Filipina yang mampu bersaing di tempat kerja regional dan internasional, hanya karena menang bahasa,” tulis Agus Wandi seperti yang dikutip kabarpidiejaya.com di laman faceboknya.

Siapa Agus Wandi sehingga pendapatnya harus didengar? Ia adalah salah satu aktivis kelahiran Sibreh, Aceh Besar, yang berhasil masuk dan berkarier di markas United Nation (UN) atau Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia menempati posisi mentereng  di United Nation Development Program (UNDP) sebuah organisasi yang bernaung di bawah PBB sebagai spesialis kohesi sosial di Kepulauan Solomon.

Kepulauan Salomo adalah sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan yang terletak di sebelah timur Papua Nugini dan merupakan bagian dari Persemakmuran.

Negara ini terdiri atas 992 pulau yang secara keseluruhan membentuk wilayah seluas 28.450 kilometer per segi.

Agus saat ini menetap di Kota Damaskus, Suriah seperti informasi yang diperoleh kabarpidiejaya.com dari laman facebooknya.

Sosok Agus Wandi di kalangan aktivis ’98 di Aceh bukanlah orang baru.

Ia adalah pentolan sekaligus pendiri gerakan perlawanan rakyat Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR), sebuah gerakan mahasiswa di Aceh yang menuntut pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) dan melengserkan rezim Soeharto.

Aktivis SMUR kerap turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi.

Agus Wandi ikut bergabung dalam aksi itu sebagai orator yang membuat kuping pejabat TNI/Polri di bawah rezim Suharto merah dan berdengung.

Akibat tindakannya yang kerap menentang dan menyuarakan ketidakadilan pemerintah terhadap Aceh, Agus Wandi pernah dicap sebagai musuh negara nomor satu oleh Danrem 012 Teuku Umar, Syarifuddin Tipe.

Tindakannya yang paling menghebohkan adalah ketika ia menginterupsi Mendagri Syarwan Hamid dalam pidato resminya di Anjong Mon Mata, Meuligo Gubernur Aceh.

Kala itu Syarwan tergagap. Dan dia pun harus mengubah haluan bicaranya, sebagaimana maksud interupsi Agus Wandi, bahwa di Aceh telah terjadi kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat oleh negara.

Karena itu pula negara harus bertanggung jawab.

Pasca dianggap sebagai musuh negara, Agus Wandi menjadi aktivis paling diburu aparat TNI/Polri.

Sejak itu ia harus bersembunyi dari kejaran aparat bersama aktivis SMUR lainnya.

Pasca Pemerintah RI dan GAM berdamai, nama Agus Wandi kembali muncul sebagai sosok anak muda Aceh progresif yang menghendaki perubahan .

Ia bersama Thamren Ananda, Rahmat Djailani, Raihan Diani dan beberapa aktivis SMUR lainnya mendirikan Partai Rakyat Aceh (PRA) sebagai sebuah partai lokal.

Pada pemilu legislatif 2009, PRA kurang mendapat sambutan rakyat, sehingga kurang diperhitungkan dalam peroleh kursi.

Para pentolan PRA kemudian ada yang hengkang dan masuk menjadi pengurus Partai Nasional Aceh (PNA), partai lokal besutan Irwandi Yusuf.

Sedangkan Agus Wandi memilih berkarier di jalur lain.

Di sela kesibukannya sekitar tahun 2008, ia menerbitkan buku berjudul “9 Langkah Memajukan Diri dan Aceh.”

Sejak saat itu, nama Agus Wandi seperti hilang ditelan bumi dari lingkaran gerakan aktivis Aceh.

Lama tak terdengar kabar, ternyata anak petani kelahiran tahun 1977 ini memilih berkarier di luar negeri.

Ia menjadi relawan di UNDP dengan jabatan kepala penasehat teknis UNDP di Pulau Solomon.

Untuk ukuran seorang pemuda Aceh, Agus Wandi adalah sosok yang brilian.

Ia fasih berbahasa Inggris dan memiliki latar belakang pengetahuan sosial politik yang mumpuni, terutama tentang isu HAM, perdamaian, keamanan dan politik regional internasional. (EM)

Sumber: Tribunnews.com