Donald Trump Memilih Perang dengan Korea Utara

KPJ, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump lebih memilih perang dengan Korea Utara (Korut) daripada membiarkan negara tersebut mengembangkan rudal nuklir jarak jauh.

Hal tesebut disampaikan Trump kepada Senator Partai Republik, Lindsey Graham.

“Langkah militer sudah dipersiapkan [AS], untuk menghancurkan program nuklir Korut dan negara itu sendiri,” tutur Graham menceritakan pertemuannya dengan Trump, Rabu (2/8).

Sejak awal 2017, Korut terus menjadi sorotan karena rentetan uji coba rudal balistiknya.

Pekan lalu, Pyongyang melakukan uji coba rudal antarbenua (ICBM) terbarunya, yang diklaim pemimpin mereka, Kim Jong-un, berkapasitas nuklir dan mampu menjangkau daratan AS seperti Alaska, Los Angeles, Denver, dan bahkan Chicago.
Dua pejabat intelijen AS bahkan mengakui rudal ICBM Korut dapat menjangkau sebagian besar wilayah negaranya.

Melihat ancaman Korut yang kian nyata, AS beserta negara besar lainnya terus memutar otak mencari cara menghentikan ambisi nuklir negara paling terisolasi itu, salah satunya mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menerapkan sanksi baru yang lebih berat lagi pada Pyongyang.

Di sisi lain, Negara Barat juga berharap China dan Rusia–kawan terdekat Pyongyang–bisa berbuat lebih banyak lagi untuk mengendalikan ambisi nuklir Korut.

Graham, anggota parlemen AS yang berkecimpung dalam urusan politik luar negeri, mengatakan jika upaya diplomasi dari Moksow dan Beijing tetap gagal dan tak membuahkan hasil, Washington tidak memiliki pilihan lain selain melakukan langkah militer ofensif terhadap Korut.

“Mereka [Korut] menelantarkan upaya berdialog selama 20 tahun lebih. Akan ada perang antara AS dan Korut jika negara itu terus melanjutkan program rudal dan berupaya menyerang AS dengan ICBM-nya,” kata Graham menceritakan diskusinya bersama Trump.

“Dia [Trump] menjelaskan [langkah militer] itu dan saya percaya. Jika saya adalah China, saya akan percaya perkataan Presiden Trump dan melakukan sesuatu terkait hal ini. Anda bisa menghentikan Korut secara diplomatik atau militer,” tuturnya menambahkan seperti dikutip AFP.

Meski begitu, Graham mengatakan dirinya lebih memilih pendekatan diplomatik untuk membendung ambisi Korut. “Namun, yang terpenting adalah mereka [Korut] tidak diizinkan memiliki rudal dengan kapabilitas nuklir untuk menyerang Amerika.”

Sumber: Cnnindonesia.com