Indahnya Merajut Kebersamaan

Oleh: Tgk. Zulfadhli Al-Wahidy*
Allah SWT menciptakan kita sebagai makhluk sebaik- baik bentuk dengan bermacam suku dan bangsa, perbedaan pangkat dan kasta. Semua itu tidak lain kecuali kita untuk saling ta’rufan ( saling mengenal). Hal ini disebutkan dalam Al-Quran berbunyi: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujarat:13).

Namun perbedaan itu janganlah sesama kita untuk bermusuhan, tetapi sebaliknya untuk menambah ukhuwah dan solidaritas antar sesama walaupun beda agama sesuai dengan koridor syariat yang telah termaktub di dalamnya.

Perbedaan itu bukanlah esensial yang harus di anggap lebih serius, namun dengan mencari persamaan tentunya akan mengurangi perlahan jurang perbedaan dan “permusuhan”. Allah SWT dalam pandangan-Nya sosok hamba yang terbaik bukanlah mereka yang bertitel tinggi, keturunan orang yang baik juga bukanlah mereka yang mampu menjadi penulis hebat sehingga mampu berkarya untuk umat namun yang paling mulia di sisi Allah mereka yang bertitel takwa, siapapun dia walaupun dari keturunan yang rendah sekalipun. 

Argumentasi ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, berbunyi:”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat:13).

Di samping itu kita juga dianjurkan untuk tidak meninggalkan jamaah agar selalu dalam kebersamaan. Hal ini sebagaimana di sebutkan dalam hadist yang diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar bahwa dia berkata:

“Rasulullah berkhutbah di hadapan kami. Di antaranya beliau berkata: “…Wajib atas kalian untuk bersama dengan al-jamaah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga maka hendaklah dia bersama jamaah. Barangsiapa yang kebaikan-kebaikannya menggembirakan dia dan kejelekan-kejelekannya menyusahkan dia, maka dia adalah seorang mukmin.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam Islam juga sangat dianjurkan bersilaturrahmi. Ini sebagaimana di jelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis beliau. Disebutkan bahwa pernah baginda bank memberikan nasihat kepada para sahabat, “Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah”. Para sahabat pun bertanya, “Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?”

Beliau kemudian bersabda lagi, “Hendaklah kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah kalian bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kalian bodoh” (HR. Hakim).

Untuk menambahkan keyakinan dan motivasi kita dalam merajut silaturrahmi, dalam hadis lain dikisahkan pula, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” tanya Rasulullah SAW kepada para sahabat. “Tentu saja,” jawab mereka.

Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi” (HR. Bukhari Muslim).

Perjalanan hidup yang di lakoni di dalam masyarakat. Kita di anjurkam untuk mampu menebarkan kebaikan dan perbaikan dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Kita makhluk manusia sebagai makhluk sosial tentu saja tidak akan mampu hidup tanpa uluran tangan orang lain. Bahkan keberhasilan mustahil di raih tanpa bantuan dan peran pihak lain tanpa menyampingkam peran kita sendiri termasuk sosok seorang teman.

Beranjak dari itu dalam Islam kita sebagai kaum muslimin agar memilih teman yang baik. Dengan berteman dengan orang yang baik, sedikit banyak ia akan terpengaruh dengan kebaikan temannya. Sebaliknya, Islam melarang untuk berteman dengan orang yang jelek.Dalam ini sebuah hadits yang shahih disebutkan:

“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Baginda Rasulullah Saw menerangkan bahwa sahabat dapat memberikan pengaruh positif atau negatif, sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau menamsilkam (menyerupakan) sahabat  yang baik dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits.

Namun kitapun masih punya tanggung jawab amar ma’ruf nahi mungkar, kalaupun kita biarkan mereka yang masih jauh dengan nilai kebaikan dan masih bergelut dengan maksiat tentulah mereka semakin jauh dengan syariat. Tetapi ajaklah dia dengan menyapa dan mengajak ke warung kopi dan makan mie bersama walaupun tidak selevel mie Booster dan sejenisnya.

Tentunya dengan demikian sambil mengajari mereka nilai kebaikan perlahan-lahan, niscaya lambat laun mereka akan merasakan indahnya kebersamaan dalam kebaikan. (IA)

*Pimpinan Dayah Keumaral Al-Aziziyah Lhoksukon, Aceh Utara dan Pengurus Tastafi Aceh Utara