Inilah 4 Kualitas yang Harus Dimiliki Calon Pemimpin Pidie Jaya

Oleh: Edi Miswar Mustafa

Bicara calon pemimpin di kabupaten tercinta ini, tentu ada beberapa kualitas yang harus dimiliki sang kandidat sehingga masyarakat mau memilihnya sebagai pemimpin. Apa saja kualitas calon tersebut?

Pertama Islam. Saya yakin, jika sang calon nonmuslim, ia hanya akan jadi penggembira saja. Namun, Islam di sini bukan berarti di KTP saja. Minimal urusan shalat, ia bukan termasuk orang yang anti-masjid alias dua kali dalam setahun saja ia mengerjakan shalat. Selebihnya masjid hanya tempat persinggahan ketika ia ingin berhajat kecil atau besar. Itu pun di MCK masjid.

Kedua gaul. Contoh orang yang gaul itu adalah Gade Salam, bupati pertama Pidie Jaya. Beliau dikenal sebagai sosok yang supel. Irwandi, gubernur baru kita itu pun dikenal sebagai orang yang supel. Bayangkan seandainya Bupati Pidie Jaya yang terpilih sosok yang hanya kenal dengan kelompoknya saja. Hanya peduli dengan keluarganya saja. Hubungan emosional dengan sejumlah elemen dalam pemerintahan ia tak peduli. Wah, bisa kacau balau. Terkait berita Irwandi dan Mualem melayang berdua dengan Eagle One Hanakaru Hokagata ke sejumlah kabupaten/kota, saya rasa nawaitu Irwandi hanya dua. Ia ingin meyakinkan masyarakat Aceh bahwa PNA dan PA baik-baik saja. So, masyarakat tidak usah khawatir memanasnya kondisi sosial-politik pascapilgub 2017 sebagaimana lima tahun yang lewat. Satu lagi, Irwandi sebagai pemegang nakhoda eksekutif yang sah secara konstitusional bagaimanapun butuh hubungan yang mesra dengan DPRA yang dikuasai partai merah yang dipimpin Mualem.

Ketiga kemampuan menyampaikan gagasan. Ada dua cara untuk menyampaikan gagasan dalam kehidupan ini bagi makhluk yang bernama manusia. Pertama via lisan dan yang kedua via tulisan. Beberapa pemimpin dunia dipilih karena kemampuannya dalam menyampaikan gagasan melalui dua aspek ini. Soekarno tidak hanya dikenal sebagai orator ulung, tapi juga sebagai penulis. Begitu juga dengan Sutan Syahrir, Hatta, Tan Malaka, sampai dengan Hasan Tiro.

Untuk Pidie Jaya kemampuan menyampaikan gagasan melalui tulisan belum begitu menjadi primadona di tengah-tengah masyarakat kita yang nirliterasi. Jujur, masyarakat kita belum ke tingkatan tersebut. Kita masih level cuma haus bacaan di koran cetak dan online serta maniak share tips motivatif copypaste ke sejumlah grup WhattShapp. Sementara buku hanya orang-orang tertentu yang sudi berbahagia kemewahan dengannya.

Namun, jikalau kemampuan menyampaikan gagasan via lisan pun tidak dimiliki, tapi ngebet banget mencalonkan diri sebagai PJ1 dan PJ2, tentu ada aspek lain yang dimiliki kandidat sehingga ia merasa akan terpilih. Namun, seandainya terpilih, dan hanya menjadi beban untuk pasangannya, hal tersebut tentu kerugian lima tahun untuk masyarakat Pidie Jaya. Sementara birokrasi yang sempurna harus dikoordinasi dengan baik adalah kunci baik dan buruknya satu pemerintahan daerah.

Keempat kemauan baik. Jika jabatan hanya sekadar nafsu politik, ketimpangan akan terus merajalela. Semua tingkatan jabatan hanya proses tawar-menawar jabatan dan upaya balik modal. Tepat seperti pameo yang diterbitkan teman-teman Komunitas Kanot Bu bahwa ‘meunyoe jabatan kadibloe, ‘oh hajat sampoe, ditarek laba’. Namun, jika kemauan baik itu ada, seorang pemimpin tidak hanya akan berpikir bagaimana menuntaskan kemiskinan, memperbanyak percepatan lapangan kerja, tapi juga berupaya dengan maksimal memunahkan profesi preman proyek dan meniadakan proyek kroni serta koncoisme.

Status Facebook Irwandi baru-baru ini boleh diambil calon kandidat penguasa Pidie Jaya sebagai referensi. Begini tulis Irwandi: tugas pemimpin bukan mencoba memenangkan proyek teman. kita berkawan bukan karena proyek, tapi karena sepakat memakmurkan rakyat.

Inilah kriteria kualitas yang harus dimiliki calon pemimpin Pidie Jaya. Tentu lain mata lain pula cara melihat segala sesuatunya. Tidak salah jika di sini menyampaikan suatu perspektif, paling tidak sebagai satu dari sekian jawaban untuk dan bagaimana harusnya pemimpin Pidie Jaya periode berikutnya. Wassalam.

Edi Miswar Mustafa: Ketua Komunitas Baca Japakeh (KBJ), Pidie Jaya.