Merebut Suara Pemuda dalam Pilkada Pidie Jaya

“Dalam paradigma lama, gaya berkampanye para kandidat diiringi dengan aneka pemberian bonus untuk para pemilih. Seperti, sembako, kain sarung, jilbab hingga amplop berisi uang lima ribu rupiah.”

 

PERSIAPAN dalam menyambut perhelatan akbar pilkada di Pidie Jaya pasti sudah dilakukan oleh para kandidat. Membentuk timses dari tingkat gampong hingga dusun, mereka bekerja untuk memperkenalkan para calonnya masing-masing. Siang dan malam, warung kopi hingga pos jaga, masjid hingga meunasah. Dimana ada keramaian, kesanalah mereka untuk “berdagang” siapa yang lebih pantas untuk menjadi orang nomor satu di Pidie Jaya.

Siapa yang akan menjadi pemenang? tentu, tidak ada yang mampu menerkanya. Dalam politik, banyak kemungkinan bisa terjadi. Pragmatisnya para pemilih dan “licinnya” para politisi menjadi seni tersendiri dalam berpolitik. Koalisi bisa saja pecah dan berubah secara tiba-tiba. Tidak ada faktor tunggal yang menjadi penentu kemenangan.

Dalam paradigma lama, gaya berkampanye para kandidat diiringi dengan aneka pemberian bonus untuk para pemilih. Seperti, sembako, kain sarung, jilbab hingga amplop berisi uang lima ribu rupiah.

Timses, hampir tidak pernah mensosialiasikan visi dan misi serta kelayakan kenapa kandidatnya layak menjadi jagoan. Dalam konteks ini, opini leader menjadi pusat perhatian karena didengarkan oleh banyak orang. Walapun berbicara tidak disertai fakta dan data. Apalagi, jika diperlicin dengan membayar satu gelas kopi pasti akan lebih mudah berbicara.

Apakah gaya lama ini bisa mempan untuk anak muda? Asumsi saya tidak, ada beberapa alasan yang bisa diungkapkan cara-cara kampanye klasik tidak cocok untuk mempengaruhi pemilih muda. Terutama mereka yang menjadi pemilih pemula. Tulisan ini mencoba menganalisa kemana arah suara para pemuda?

Muda dan Media

Suara pemuda adalah suara perubahan. Keunikan dari pemuda adalah lahir dari masa kekinian dengan kondisi dunia diwarnai dengan pesatnya media informasi. Canggihnya alat yang digunakan menjadikan meraka kaya akan berita. Satu peristiwa yang terjadi dibelahan dunia dengan mudah bisa didapatkan. Selanjutnya, akan dianalisa dan diterjemahkan sesuai dengan kadar kemampuan mereka.

Pemuda dan media adalah dua hal yang berjalan seiring. Pertumbuhan industri media juga disebabkan oleh peningkatan jumlah pengguna dikalangan anak muda. Bisa diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan meleknya penggunaan gadged untuk kanak-kanak. Ragam aplikasi, audio visual, portal berita hingga permainan menjadi gaya hidup sehari-hari bagi anak-anak, remaja dan pemuda.

Dalam kondisi ini bisa dikatakan, opini leader tidak bisa berbuat banyak untuk mempengaruhi mereka. Apalagi disertai gaya bicara asal berkata, bukan dari sumber yang layak dipercaya. Kebenaran tidak lagi mutlak menjadi ranahnya orang-orang yang berpengaruh. Dalam hal ini, perbedaan pendapat bisa semakin tajam jika penyampaian informasi berbeda dari apa yang berkembang dimedia.

Diakui atau tidak, media sudah menjadi sumber kebenaran baru dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu juga dengan berita tentang tokoh dan kandidat dalam berpolitik. Kemana angin segar media berpihak, kesanalah kencendrungan pemilih untuk mengikutinya. Namun harus diingat, semua ini bisa disetting dengan mengkonstruksi opini publik yang positif sesuai dengan selera masing-masing.

Muda dan kritis

Anak muda juga identik dengan sikap yang kritis, bukan hanya karena tumbuhnya hormon tertentu dalam dirinya. Namun juga karena tidak ada kepentingan yang menunggangi sehingga pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada fakta-fakta akan muncul. Jika menyampaikan gagasan tertentu, siaplah dengan bukti dan dalil yang akurat. Contoh-contoh yang kongkrit serta disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak berbelit-belit.

Ide-ide tentang pembangunan oleh para kandidat juga harus dikemas secara rapi sesuai selera anak muda. Riwayat hidup kandidat yang berisi konsep dan bukti keberhasilan sangat berpengaruh untuk menjadi bahan bacaan dan siap untuk dikritisi. Membuka ruang dialog, baik itu melalui media dan tatap muka adalah pilihan yang tepat untuk dilakukan. Tentu saja dengan gaya ceplas ceplos, bahasa yang lantang dan terkadang pilihan kata yang sedikit “pedas”. Itu bukanlah persoalan, karena menjadi ciri khasnya anak beranjak dewasa.

Melempar isu seperti “menjual kucing dalam karung” tidak akan berdampak apa-apa untuk kalangan ini. Isu tentang pendidikan dan lapangan pekerjaan adalah dua hal sangat menarik dirancang lebih dominan. Karena kedua hal ini menyangkut langsung dengan masa depan mereka. Cukup menjelaskan kemana arah pembangunan dan bagaimana cara untuk mewujudkannya. Selebihnya, sertai contoh-contoh bukti yang pernah dilakukan oleh kandidat dalam memecahkan persolan dimasyarakat.

Muda dan Panggung

Politik adalah panggung bagi siapa yang mau merebut kekuasaan dengan cara-cara yang konstitusional. Para kandidat harus berperan selayaknya tokoh dalam pembangunan dan siap berdiri dihadapan para penonton.

Menjelang pilkada, banyak panggung-panggung kecil yang disiapkan. Seperti, pertemuan alumni sekolah (reuni), perkumpulan para pedagang, tani, nelayan, dan lain sebagainya. Mimbar bebas tersedia bagi para pemain untuk berbicara, walaupun hanya sekedar sambutan biasa.

Anak muda memiliki panggung tersendiri yang berbeda dari lainnya. Sangat istimewa dan unik karena memiliki karakteristik tertentu. Tidak terikat oleh profesi pekerjaan, murni berbicara gagasan, dan yang pasti bukan rutinitas yang membosankan.

Panggung bagi anak muda harus dibalut dengan seni kreatif dan olahraga. Menghidupkan kembali khasanah budaya lokal patut untuk dicoba, seperti geudeu-geudeu, layangan, gaseng puta, dan banyak lagi permaian tradisional lainnya.

Cara ini bermanfaat untuk menghidupkan kembali serta memperkenalkan kepada generasi muda. Bahwa, Aceh dan Pidie jaya memiliki kebudayaan yang tidak boleh hilang dari generasi ke generasi.

Penutup

Suara pemuda adalah suara penentuan kemenangan. Bagi anak muda yang memiliki konsep diri yang kuat, idealisme tidak bisa digadaikan dengan barang murahan.

Suara akan diberikan kepada kandidat yang mampu menawarkan perubahan dan bagaimana cara mewujudkannya. Penting, bukan hanya sekedar beretorika apalagi sekedar bicara tanpa ada fakta apa-apa. Semoga, bupati Pidie Jaya kedepan adalah bupatinya anak muda. Sekian..!

Teuku Zulyadi, sedang menempuh program Doktoral di Kota Wuhan, China. Berasal dari Gampong Deah Pangwa, Pidie Jaya.