Sabu-sabu dan Aceh Pasca-Damai

Sehari setelah HUT RI ke-72, 4 warga Aceh ditangkap atas kepemilikan 40 Kg sabu-sabu di Pantonlabu, Aceh Utara. Sehari sebelumnya Polda Sumut menembak mati seorang warga Aceh dan menangkap 3 lainnya yang terlibat jaringan narkoba internasional.

Miris. Dulu masa konflik nyawa masih di badan, tapi saat damai hadir malah nyawa sudah tiada. Cocok benar seperti kata pepatah lama, malang tak dapat ditolak, perihal nasib setiap manusia sudah ada ketentuannya.

Nah, di bawah ini sedikit ilustrasi.

Usman Beumakmu, geleng-geleng kepala. Ia juga warga Aceh yang dulu sempat kena tampar dan tendang di masa konflik. Tapi nyawanya masih selamat hingga kini. Menurutnya, faktor ekonomi dan keinginan cepat kaya salah satu faktor mengapa banyak orang Aceh nekat terlibat narkoba.

“Dulu masa konflik, baik yang terlibat langsung sebagai pejuang Aceh atau tidak, banyak yang lari ke Malaysia,” ujarnya sambil menyeruput kopi.

“Apa kaitannya,” tanya Syarifuddin, teman minum kopinya setiap pagi di Warkop Mak Usen.

Usman menyisap rokoknya. Melihat ke jalan raya yang sedang ramai-ramainya di waktu pagi. Melihat bapak-bapak dan ibu-ibu ke kantor dan ke sekolah dengan motor matic-nya.

“Jalan tikus Malaysia – Aceh sudah pernah dilalui. Mungkin malah sudah beberapa kali dilalui. Ibarat perjalanan pertama menemukan Benua Amerika oleh Columbus, Amerika adalah tanah impian. Dan ya, sama. Impian menemukan Amarika agar cepat kaya adalah dengan narkoba,” ujar Usman lagi. Kali ini ia bicara agak mirip-mirip seorang pejabat negara yang hadir di acara kesayangannya yakni Indonesia Lawyer Club Bang Karni.

Syarifuddin makin bingung, “Terus apa kaitannya,” timpalnya kesal.

Usman berusaha untuk tidak menampakan wajah geram. Bodoh sekali kau, batinnya. Ia sudah pernah bercerita pada sahabatnya itu padahal. Setelah MoU Helsinki, banyak mantan kombatan yang dapat rezeki dan tidak. Sementara dulu di masa perang, posisi mereka ditentukan oleh keberanian dan postur badan. Sekarang nasib menentukan lain, mantan kombatan yang kaya itu yang jago bicara dan pandai mencari teman.

Dua tipikal mantan kombatan memberi rezeki yang berbeda. Yang jago ngomong dapat kerjaan terhormat jadi anggota dewan. Yang besar badan dapat proyek lalu diserahkan kepada yang punya modal besar. Belakangan yang besar badan agak susah mendapatkan janji proyek. Sementara yang kecil badan tapi jago bicara berusaha untuk memperkaya diri sendiri.

“Heh, kenapa tidak dijawab? Apa kaitannya?” kejar laki-laki yang biasa dipanggil Din Teu-inggik-inggik itu.

“Sudah terbiasa nekat. Dulu, masa konflik, ia nekat mati melawan pemerintah. Sekarang damai, ia nekat mati demi anak-istri. Demi menyaingi kekayaan teman-temannya yang dulunya tak sehebat dia saat bertempur dengan serdadu Indonesia,” paparnya, perlahan dan setengah berbisik.

Tentu prediksi saya tidak seluruhnya benar, batinnya. Tapi ia melihat itu sebagai alur kronologis yang dapat dicari pembenarannya. Apalagi pelaku narkoba, baik pemakai atau pengedar, lebih terhormat di lembaga pemasyarakatan. Mereka seakan lebih mulia dari pencuri kerbau sekandang, koruptor sekaliber Ahmad Fatanah, apalagi seorang pedofil.

“Alah, saya tidak ‘ngerti. Kamu kebanyakan nonton Bang Karni,” sergah Udin Teu-inggik-inggik.

Sayang sekali, saya tak punya lawan bicara yang tepat di kampung ini, batin Usman lagi. Seandainya ia punya teman yang sekeyakinan, tentu mereka bisa mendiskusikan proses transisi mantan kombatan pascadamai Aceh. Tentu mereka bisa merancang satu pola pemusnahan narkoba di Aceh yang kesannya seakan dipelihara para aparat.

“Ah, berapa persen yang tertangkap ataupun langsung didor aparat dalam kasus narkoba pascadamai adalah mantan kombatan. Ia tidak pernah mencatatnya secara khusus. Bisa jadi umumnya bukan mantan kombatan. Jikalau demikian, alibinya di atas keliru sama sekali,” ia membatin.

“Aku pulang, Man. Kau suka banyak melamun sekarang. Sudah seperti anak-anak kena boh 100 he he.” Syarifuddin keluar dari warkop tersebut.

Salam Redaksi