Santri Sosok Pembasmi GPK

Oleh: Iswadi Arsyad Laweung

Kehidupan di dayah yang di kenal dengan penjara suci mempunyai keunikan tersendiri dan para santripun di ajarkan bukan hanya pendidikan kulikuler juga ekstra kulikulerpun menjadi magnet dan ruhul dayah sendiri dalam menerpa para penghuni penjara suci menjadi sosok yang tangguh, mandiri, tauladan dan lampu penerang masyarakat saat mereka sudah pulang nantinya.

Fenomena demikian terlihat dan sudah lama di terapkan di dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, Bireun yang merupakan dayah terbesar di Aceh saat ini. Salah satunya gotong royong, aktifitas ini mempunyai nilai tersendiri terhadap santri bukan hanya mengandalkan kekuatan jasmaniah sehingga mampu menyelesaikan apa yang di bebankan namun juga menilai ketakdhiman  dan nilai kepatuhan seorang santri terhadap perintah sang guru dan ujungnya mendidik mereka untuk lahirnya rasa memiliki, interaksi sesama, kebersamaan dan masih banyak nilai lainnya.

Menelesuri lebih lanjut dengan gotong royong itu juga dalam menghilangkan rasa kejenuhan dan kebosanan di kenal dengan ” meuawoe” di dunia dayah. Sosok “meuawoe” merupakan momok yang menakutkan bahkan terkadang menyebabkan para santri mengambil ” ijazah” tanpa stempel alias menghilang dari penjara suci sebelum waktunya.

Dalam realita kehidupan keseharian di dayah. Aktifitas gotong royong sebagai warisan nusantara di beberapa dayah Aceh tidak di terapkan secara propesional dengan durasi dan manajemen yang bagus dan teratur. Ada juga sebagian dayah hanya hari jum’atnya gotong royong membersihkan perkarangan dayah dan lingkungan sekitar. Terkadang saat ada pekerjaan yang mendesak dan harus di selesaikan secepatnya dan waktu yang terkejarkan.

Namun di dayah MUDI gotong royong itu bagian dari “bidang studi” tiada hari tanpa gotroy bukan hanya pada hari jum’at saja, tetapi minimal selain jum,’at tetap ada jadwal yang di khususkan untuk para santri dengan kegiatan yang telah di agendakan. Belum lagi piket harian dengan mobil “militer” bernama ” Reo” saban hari melakukan patrialis setiap hari membasami para ” GPK”(Gerakan Pengacau Kebersihan).

Anda bisa bayangkan para GPK terus ” menyerang” para santri dan masyarakat dayah dengan senjata ” pamungkas” nya yang menunggu di pos tertentu.

Sang ” GPK” itu dengan amunisi “beracun” nya akan terus beringas bahkan menjadi “Bom Biologis” yang akan mengganggu kenyamanan, kenyamanan dan kesehatan masyarakat dayah. Kegigihan para santri setiap hari dengan mobil “Reo” mampu ” menumpaskan para ” GPK” dan bala tentaranya. Itu diantara gambaran gotong royong rutin para santri membasmi ” GPK” dengan namanya ” Broeh” alias sampah.

Gotong Royong yang telah lama di terapkan di dayah sebagai bagian terpenting dalam kehidupan dayah mampu melahirkan bermacam sikap dan pendidikan tidak langsung kepada para santri mampu mengubah tabiat malas dan melahirkan nilai takdhim luar biasa baik kepada dayah maupun pendidik sendiri bahkan keberhasilan seorang santri terkadang terletak sejauh mana dalam mengaplikasikan ” gotong royong” atau bahasa sehari-hari di dayah ” jak u blang”.

Asumsi ini di sebabkan sawah itu sering di jalani para santri dalam membantu guru dan dayah sendiri, maka gotong royong itu masyhur dengan ” jak u blang” walaupun esensinya masih ruang lingkup gotong royong. Terkadang seorang santri mampu menjadi sosok ulama dan tokoh agama yang berhasil di masyarakat dengan berbekal ketekunan dan ketakdhimannya lewat gotong royong (jak u blang). Benarkah dan Lantas bagaimana kisahnya? (Bersambung)

* Iswadi Arsyad Laweung
Pemerhati Masalah Pendidikan
Berdomisili Samalanga, Bireun