Secangkir Kopi Bersama Tiga “Singa” Muda Aswaja

KPJ-SAMALANGA- Suasana dingin dengan iringan hujan di sebuah warkop terkenal Kota Santri Samalanga semakin menambahkan “nutrisi” dan petuah dari tiga sosok muda, diantaranya baru saja menyelesaikan masternya di bidang ekonomi Islam. Sementara dua lagi sedang masih sebagai kandidat master.

Diskusi kecil lintas mazhab dan pemikiran semakin menarik kolaborasi tiga dua dayah terbesar Aceh Ummul Aiman dan MUDI Masjid Raya Samalanga.

” Saat ini bagaimana keberadaan kita sebagai penerus estatafet kedepan dengan basic dayah harus mampu mewarnai kehidupan di segala lini kehidupan, secara komperhensif dengan pendekatan bil hikmah dan mau’izah hasanah”, ungkap Teungku Iswadi Arsyad kandidat master komunikasi IAIN Malikussaleh Lhokseumawe.

Balutan rokok Aceh dengan seduhan kopi khas Samalanga, beliau semakin bersemangat meneruskan ulasannya, apa yang terjadi di dunia ini, kita harus melihat kebelakang dan kehidupan ini merupakan sejarah yang terulang dengan lakon dan masa yang berbeda,” Kita harus belajar dari sejarah silam bagaimana Islam itu maju, masa keemasan Islam itu di awali oleh penguatan ilmu pengetahuan tanpa adanya dikotomi di dalamnya” sambung Abah Iswadi sehari-hari aktif mengajar di dayah MUDI Masjid Raya Samalanga.

Tidak lama berselang diskusipun bertambah “panas” kala kandidat master ekonomi dari negeri seberang Malaysia Tgk. Khuzni M. Adam yang juga dewan guru dayah Ummul Aiman memaparkan kupasannya di bidang ekonomi Islam dan perkembangannya.

Sunnguh suasana semakin hidup dan bernyali tatkala sosok muda penulis handal Teungku Abdul Hamid yang di impikan dengan kapasitas ilmunya kelak sebagai resenance ” Syekh Al-Buthi Timur” seperti yang di ungkapkan Syekh Fauzan Inzaghi salah seorang mahasiswa program master di Suriah mengulas pemikiran para ulama Al-Azhar dan dunia tidak luput pula konsep ekonomi Islam kedepan. Namun ketawadhuan sangat kontras terlihat tatkala menanggapi pemikiran yang berseberang dengannya.

Biarpun diskusi terus hangat dengan isu global plus diriingi racikan kopi khas namun hujan terus mencurahi rahmat sehingga mampu “mendinginkan” suasana. Tidak terasa hampir tiga jam berdiskusi telah berdiskusi. Di celah diskusi Tgk. Abdul Hamid beliau juga mengutarakan banyak pengalaman dan ilmu yang tidak habis di catat bahkan keinginan beliau meneruskan program doktoralnya sebagaimana di amanahkan ayah rohani Waled Nuruzzahri pimpinan dayah Ummul Aiman.

“Hamid, kamu jangan kawin dulu, sekarang teruskan menuntut ilmu program doktoral, kawin nanti, Waled ridha kamu terserah berapa kamu kawin dua, tiga hingga empat, silahkan” kata putra Kembang Tanjung itu mengutip pesan Waled.

Tentu saja ini merupqkan lampu “hijau” dan doa dari sosok ulama kharismatik Aceh tersebut. Apa yang diamanahkan itu sunguh sinyal sangat besar harapan Waled Nuruzzahri pada Tgk. Abdul Hamid sebagai murid kesayangan beliau untuk terus menuntut ilmu setinggi langit walaupun Waled hanya tamatan dayah tradisional.

Diskusi tiga insan dayah kelahiran Pidie itu berakhir tatkala azan Asar berkumandang. Sungguh pertemuan dan diskusi lintas pemikiran dan dayah itu sangat banyak ilmu dan pencerahan serta pengalaman yang dapat di petik dan diserap. Kita berharap ketiga ulama muda sebagai ” singa” muda Aswaja itu mampu menjadi mercuar dan lampu umat sigom dunia.Semoga. (IA)