Pendidikan Kaitannya dengan Dominasi Perempuan dan Peran Orang Tua

Oleh: Edi Miswar Mustafa

Sudah lama saya kepikiran kenapa para siswa terbaik dari sisi akademik di sekolah didominasi anak perempuan? Mungkin, jawabannya saya dapat ketika berkunjung ke rumah famili istri saya yang juga seorang guru.

Mengapa mungkin? Sebab pertanyaan di atas tidak dapat dikatakan sederhana. Persoalan pendidikan terlalu pelik untuk disederhanakan. Konon lagi oleh jawaban seorang guru nun di satu pelosok di Pidie.

Kenyataannya memang demikian. Anak perempuan mengungguli anak laki-laki. Beda dengan beberapa tahun lalu, kini persentase guru SD, SMP, dan SMA rata-rata adalah perempuan. Tidak hanya di lembaga pendidikan, tapi juga berbagai instansi pemerintah. Termasuk di sejumlah kampus. Semakin banyak kaum adam yang akan disisihkan kaum hawa.

Lantas apakah itu karma masa lalu ‘mengingat’ hegemoni laki-laki atas kaum perempuan bahkan sempat dinyanyikan begini: wanita dijajah pria sejak dulu kala . . . Lantas apakah tulisan singkat ini menjadi semacam testimoni perlawanan terhadap kedigdayaan perempuan?

Saya berharap tidak diterima demikian. Saya lebih berharap agar para orangtua menyadari peran penting mereka dalam membangun satu generasi. Jika bahasa agama perempuan adalah tiang sebuah rumah, maka sebagai laki-laki marilah kita membuat analogi bahwa laki-laki ibarat fondasi sebuah rumah. Jika tiangnya (perempuan) bagus, tapi fondasi rumah (laki-laki) kurang bagus alias kurang dalam digali tukang, tentu sebuah rumah tidak sekokoh beringin tua.

Kembali ke kunjungan hari raya, ipar mertua saya bercerita perihal sekolahnya yang hanya menerima sedikit murid tahun ajaran kali ini. Ia juga turut prihatin terhadap motivasi anak-anak sekarang. Ia guru biologi, ia pernah minta anak-anak membawa serbuk sari — yang bisa mereka dapatkan di jalan — tapi ternyata hanya dua anak yang membawanya.

“Anak-anak sekarang tidak mau belajar,” ujarnya. Kalau ada praktikum, ia sendiri bawa bahan dan ia sendiri yang mengerjakannya.

“Kalau mereka bertanya, seringnya cuma dua hal: kapan mereka dikasih beasiswa dan kapan sekolahnya libur.”

Benar kata Cinta Cak Nun bahwa full day itu warisan pesantren bukan warisan Finlandia. Fenomenanya dewasa ini anak-anak banyakan diantar ke sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Agama. (Jika orangtua yang agak mampu secara ekonomi, mereka akan mengantarnya ke sejumlah pesantren swasta). Di sana, karena tidak di bawah Pemda, orangtua melihat sesuatu yang lebih baik dari sisi bantuan sekolah. Para orangtua juga melihat bahwa di sekolah-sekolah Kemenag pelajaran agama lebih banyak diajarkan.

“Padahal tak seberapa. Yang lebih cuma ada Bahasa Arab, Aqidah Akhlak, dan Fiqh,” timpal ipar mertua saya.

Obrolan berlangsung lebih seru saat soalan dominasi perempuan atas laki-laki dikemukakan. Menurut Bu Betty, begitu ia disapa, pembiaran bermain di luar rumah sejak usia dini salah satu sebab mengapa banyak anak kampung tertinggal dari sisi akademik di sekolahnya. Situasi kenyamanan bermain di luar rumah membuat si anak sulit konsentrasi belajar. Ia selalu terbayang betapa senangnya bermain di sungai, bermain menyelam, bermain lari-larian, patok lele, main umpetan dan permainan lainnya yang umumnya dimainkan anak laki-laki.

Berbeda dengan di kota yang karena struktur sosial masyarakat urban dari berbagai kelas, para orangtua jarang yang membiarkan anaknya keluar bermain di luar rumah. Kondisi ini di satu sisi membuat anak-anak tersebut tidak seriang anak-anak kampung bermain dengan kelompoknya, tapi di sisi lain ‘ketidaknyamanan bermain’ di rumah salah satu faktor anak-anak mau belajar dan mau mengulang pelajaran di sekolah.

Karena bermain di rumah tidak semenarik di luar, mereka kerap bosan bermain. Karena bosan bermain, energi mereka bisa dialihkan untuk belajar. Inilah kuncinya. Bahkan inilah jawaban untuk menjawab mengapa posisi rangking terbaik di sekolah banyak dihuni anak-anak berjenis kelamin perempuan.

Namun, pengalaman banyak kita juga melihat upaya isolasi si anak terhadap akses bermain turut membuat si anak kehilangan dunianya. Ia kemungkinan memang akan tumbuh seperti yang diharapkan orangtua di bidang akademik sekolah. Di sisi lain karena kungkungan teramat besar, si anak diajarkan tidak boleh bergaul terlalu luas (bukan bebas), si anak didekte dengan banyak keinginan si orangtua, beberapa individu yang dididik semacam ini tumbuh sebagai sosok yang menarik di bidang akademik, tapi ‘menyedihkan’ di sisi sosial.

Banyak anak cerdas di sekolah bermental asosial. Mereka tumbuh menjadi generasi yang hanya memikirkan diri sendiri. Kelak, ketika mereka menjadi individu-individu mandiri, mereka tidak ingin berbaur dalam masyarakatnya.

Inilah yang perlu disadari. Jika pun si anak dikurangi jam bermain, ia harus dikontrol dengan baik. Berikan mereka kehangatan keluarga. Jangan pernah ada aksioma bahwa tugas sang ayah mencari uang semata-mata, sementara tugas sang ibu melahirkan dan membesarkannya. Aksioma ini tumbuh subur di Aceh. Dan, laki-laki asyik bersenda ria di warung kopi.

Edi Miswar Mustafa: Ketua Komunitas Baca Japakeh (KBJ) di Pidie Jaya