Nasib Jalan di Meunasah Rumpuen Beuracan

MEUREUDU — Jika Anda punya waktu luang untuk berkeliling kampung di kecamatan Meureudu, maka datanglah ke Gampong Meunasah Rumpuen lalu menuju Gampong Lampoh Lada setelah melalui jembatan gantung. Kedua gampong itu merupakan gampong pedalaman di kemukiman Beucaran. Nah, kesan apa yang Anda dapatkan? Mungkin jika kesan negatif, tentunya perihal jalan di sana yang penuh lobang. Data yang diperoleh kabarpidiejaya.com, jalan tersebut dibangun sekitar tahun 1992 dan hingga kini belum juga diperbaiki.

Kondisi jalan di sini berbeda dengan jalan-jalan di wilayah yang dahulunya dicap sebagai kawasan merah semasa konflik dulu. Jika jalan-jalan di kawasan kategori merah di wilayah Bandar Baru dan Bandar Dua sudah menghitam dengan aspal tebal nan luas, sementara di Meunasah Rumpuen dipenuhi debu beterbangan bila musim kemarau dan becek tak ketulungan saat musim penghujan.

Asnawi (47), Keuchik Meunasah Rumpuen mengeluhkan kondisi jalan tersebut. Berulang kali ia datang ke pihak yang berhubungan dengan perbaikan jalan. Namun, pihak PU selama ini menyatakan supaya jalan tersebut dapat dilebarkan lagi menjadi 7 meter.

“Tidak gampang masyarakat memberi tanah mereka untuk jalan. Dan, saya kira jalan tersebut sudah lebar. Saya lihat di Takengon tidak sampai harus 7 meter ruas jalan, tapi tetap diaspal,” ujar Asnawi kepada kabarpidiejaya.com, Kamis (19/10/17).

Baru-baru ini Wakil Bupati Said Mulyadi juga sudah berjanji akan mengaspal jalan tersebut. Namun, sudah sekian bulan, belum juga nampak tanda-tanda bahwa jalan tersebut akan diaspal sesuai janji wakil bupati.

“Itulah. Kami menunggu dan terus menunggu tiap hari seraya berdoa kepada Yang Kuasa supaya dibukakan pintu hati pemimpin Pidie Jaya kami yang kami cintai agar melihat lalu segera memperbaiki kondisi jalan di kampung kami,” ungkap Asnawi.

Dihubungi secara terpisah via seluler Kadis Pekerjaan Umum Pidie Jaya Bahrum Bhakti mengatakan bahwa persoalan infrastruktur Pemkab Pidie Jaya tidak menutup mata. Tapi Pemda melihat yang mana harus diprioritaskan lebih dahulu karena hal tersebut menyangkut dengan anggaran.

“Maknanya begini maksud yang saya sampaikan, secara khasanah hati, kita orang Pidie Jaya, tidak mungkin kita tidak memperhatikan Pidie Jaya. Tapi ‘kan dalam hal kegiatan ‘kan ada skala prioritas. Dan apakah itu tidak prioritas, tetap prioritas.”

“Juga di situ masyarakat kita. Dan Insya Allah sampaikan kepada masyarakat — ketika itu saya itu Pak Waki ada berjanji — tapi dengan pertimbangan bahwa usulan 2018 kita kita naikkan. Karena ini sudah tidak mungkin lagi di tahun 2017,” pungkas Bahrum Bhakti. (EM)