Pemuda Sang Pelopor Sense Of Curiosity dan Sense Of Critique

KPJ, BIREUN- Tanpa terasa sejarah Sumpah Pemuda yang telah di lakoni oleh pemuda Indonesia pada masa pra kemerdekaan, kini sudah berumur 89 tahun (1928-2017). Hendaknya sosok pemuda mampu mengaktualisasikan kembali nilai sumpah pemuda di era globalisasi ini

” Seorang pemuda dengan semangat Sumpah Pemuda diharapkan mampu merealisasikan nilai tersebut di era globalisasi ini terlebih dengan umurnya sudah 89 tahun (1928-2017) juga di bebankan kepada pemuda sebagai generasi penerus bangsa ini untuk memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembaraan pengetahuan dan rasa ingin mengetahui yang lebih besar dan harus menjadi pelopor sense of curiosity (rasa keingintahuan yang tinggi) demi kemajuan masyarakat pada umumnya,” kata Ustaz Riyandi Syafri, MA salah seorang tokoh pemuda dan agama Aceh kepada kabarpidiejaya.com. sabtu, (29/10/2017).

Ia mengatakan saat itu mayoritas atau lebih dari 50 persen penduduk Indonesia adalah para kaum-kaum muda produktif yang dalam bahasa Al-Quran di kenal dengan ‘Al-Fata”. Bisa di dibayangkan apa yang terjadi jika hari ini al-fata (pemuda) tidak memiliki bekal kepemudaan yang mengambarkan esensial seoarng pemuda, boleh jadi ke depan bangsa ini akan semakin terpuruk atau bahkan “hancur lebur” negeri ini.

“Lantas pemuda yang bagaimanakah yang termasuk dalam katagori “ pemuda ideal ” itu? Setidaknya ada tiga poin umum ciri seorang “pemuda ideal” merupakan harapan agama, umat dan bangsa ini “, lanjut alumni dayah MUDI Masjid Raya Samalanga putra kelahiran Jambi dan dosen senior Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAI Al-Aziziyah itu.

Sang tokoh perantau yang sukses di kota santri Samalanga itu menyebutkan faktor pertama “pemuda ideal” itu bahwa seorang pemuda penuh akan gelora semangat perjuangannya. Ini hal yang paling urgen yang menjadi pembeda antara golongan tua dan golongan muda adalah semangat juang yang ada. Jika orang tua semangat juangnya sudah mulai lusuh dan luntur, maka pemuda adalah yang memiliki semangat juang yang tak pernah padam. Ini sebagaimana pepatah arab disebutkan “Himmaturrijal Tasqutul Jibal”(Semangat seorang pemuda itu mampu meruntuhkan gunung”

” Faktor Kedua, seorang pemuda ideal itu penuh akan sense of critique. Orang tua biasanya jiwa kritisnya sudah mulai menghilang dan memudar, sedangkan para pemuda tiada henti-hentinya peduli dengan kondisi sekitar dengan jiwa kritisnya. Hati nuraninya tergerak ketika melihat kebatilan merajalela disekitarnya. Sosok seorang pemuda tidak akan senang dan tenang jika melihat das sein (realita) tidak sesuai dengan das sollen (idealita)”, sambungnya putra ke dua dari Pasangan Muhammad Syafri Syahroni dan Halimah Binti Abdurrazak yang juga kandidat doktor UIN Sumatera Utara itu.

” Selanjutnya, faktor Ketiga, pemuda itu penuh akan narasi-narasi masa depan. Jika para orang tua senang membicarakan tentang kisah-kisah masa lalu, maka pemuda adalah ia yang senantiasa selalu membicarakan tentang masa depan dan apa yang akan dilakukan ke depan” jelas sang cucu dari ulama tanah Melayu dari Provinsi Jambi Yakni Syekh Abdurrazak Bin Syekh H Muhammad Al-Ghazali yang juga ketua Yayasan Serambi Mekkah Al-Aziziyah Sarolangun Jambi itu

Terkhir cendekiwan muslim yang penuh dedikasi tinggi itu berharap hendaknya sosok pemuda idaman bangsa itu harus senantiasa selalu bergerak secara progresif. Membangun ide-ide serta gagasan secara massif dan produktif. Mencuatkan narasi-narasi perubahan (reformasi) secara spontan menggelora, namun tetap bijaksana nan arif demi kebaikan dan perbaikan dalam konteks mauizah bilhasanah untuk menjemput ridha sang ilahi demi bangsa dan Negara tercinta ini dalam bingkai NKRI. (IA)