Muda Belia Hentak Taman Ismai Marzuki Lewat Hikayat Dangdeuri

Ruangan itu masih sepi saat kami masuk. Beberapa kursi masih terlihat kosong. Udara dingin AC begitu mencekam tulang belulang kami. Kemudian, setelah kami duduk, beberapa menit kemudian tirai panggung dibuka pelan-pelan.

Dari jauh, seseorang muncul diiring suara bansi yang lirih dan menyentuh. Suara yang memecah keheningan kami itu datang bersama seorang lelaki yang mengenakan pakaian hitam, dibalut songket khas Aceh. Di belakangnya, kubah masjid yang runcing dengan warna layar emas menambah suasana syahdu, tanda pertunjukan telah dimulai.

Lelaki itu duduk. Kemudian mulai mengucapkan salam dalam bahasa Aceh, dengan suara yang sangat khas seperti laiknya pertunjukan seni tutur Tgk Adnan PMTOH. Namun, kali ini hikayat itu dibawakan oleh Muda Belia, seorang seniman seni tutur Aceh di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jumat, 11 Mei 2018.

Kegiatan ini adalah acara tahunan Panggung Seni Aceh dengan menampilkan seniman-seniman daerah di Taman Ismail Marzuki. Tahun lalu, acara serupa juga pernah dilaksanakan di tempat yang sama dengan tajuk berbeda yakni, Angin Musim Barat.

Dalam hikayat Dangdeurianya, Muda Belia kali ini menceritakan bagaimana kemakmuaran di Aceh ketika dipimpin oleh raja-raja. Sebab, apapun perintah raja pada saat itu tidak ada satu pun yang ditentang oleh masyarakatnya. Sehingga terciptalah kedamaian dan kemakmuran seluruh negeri.

Selain itu, dalam hikayat kali ini, Muda Belia juga menceritkan perihal lain dalam kehidupan. Misalnya, dari cerita masyarakat yang tidak pernah melawan perintah raja, ke cerita syiar agama melalui hikayat.

“Sebab, itulah yang dilakukan nenek monyang bangsa Aceh pada masa-masa peperangan zaman dulu,” kata dia.

Contohnya, kata dia, masa perang Belanda, para pengkhikayat Aceh membangkitkan semangat perjuangan Aceh melawan penjajahan kafir Belanda melalui perang Sabilillah, yang saat ini dikenal dengan Perang Sabi.

Mantan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah, Kementerian Pariwisata, Tazbir yang hadir pada kegiatan tahunan itu mengapreasiasi Panggong Seni Aceh yang menampilkan hikayat. Sebab, seni tutur yang berkembang di Aceh ini seiring waktu bisa saja punah.

“Seni tutur pembaca hikayat Aceh mempunyai peran penting dalam penyampaian pesan-pesan agama dan pembelaan tanah air dari penjajahan.

Ini aset kesenian Aceh yang sudah semakin langka. Perlu apresiasi dari kita semua,” kata dia, yang kini menangani TIM Pelaksana Calender of Event 2018 di Kementerian Pariwisata.

Acara akan berlanjut besok, Sabtu, 12 Mei 2018 dengan kegiatan baca puisi penyair Din Saja bertajuk “Kepada Yang Terhomat”. Pada 24-25 November 2018, Panggong Aceh juga akan menampilkan grup Musik Rapai Tuha, kali ini mengetengahkan “Kisah Teuku Nyak Arief”.

Tak ketinggalan, grup Komedi Ampon Yan yang pernah tampil tahun lalu juga akan mengisi kegiatan tahunan ini. Pada kali kedua nanti, grup yang mengocok perut penonton tahun lalu itu akan membawa lakon “Awak Tam Ong” pada 28, 29, 30 November 2018.