Goenawan Mohamad dan Hanafi Gelar Pameran ’57×76′

JAKARTA, Kabarpidiejaya.com | Angin kencang, dan langit bersih. Suasana penuh keakraban terlihat khusyuk di depan Galeri Nasional, Kamis, 21 Juni 2018, kemarin. Orang-orang datang dan saling menyapa, bertukar kabar dan saling berpelukan satu sama lain. Tanda sebuah silaturahmi dalam agenda apapun menjadi begitu sumrigah.

Di luar, orang-orang satu persatu mencatatkan nama mereka di buku tamu. Banyak orang-orang besar yang hadir: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, pengusaha properti dan pencinta seni Ciputra, Direktur Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury, Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto serta Direktur Kesenian, dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Restu Gunawan.

Saat semua telah berkumpul, orang-orang menunggu dengan berdebar. Akhirnya, gong pun berbunyi, tanda pameran kolaborasi paling akbar bertajuk ’57 x 76’ yang dikerjakan selama enam bulan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad dimulai.

Padahal, semua orang mengetahui bahwa dua orang itu berbeda latar belakang. Tapi dengan kerendahan hati dan ketulusan jiwa, akhirnya mereka mampu menarik perhatian mendalam dari segenap tamu yang hadir.

Saat itu, ketika nama Goenawan Mohamad disebut lewat pengeras suara, dengan rendah hati lelaki bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad itu mengucapkan terima kasih. Sebab ia bersyukur bahwa dapat menggelar pameran kolaborasinya bersama Hanafi di Galeri Nasional.

Padahal, tempat itu selalu menjadi rebutan seniman lain untuk melakukan hal sama. “Lebih surprise lagi atas kehadiran Pak Moeldoko, seorang jenderal yang dekat dengan Presiden, serta memiliki apresiasi seni tinggi,” kata pendiri Majalah Tempo itu dengan lembut.

Disisi lain, Hanafi yang menjadi teman kolaborasi Goenawan Mohamad menyampaikan rasa bangga dapat menggelar pameran bersama seniman besar itu. “Beliau konsisten menulis Catatan Pinggir di Tempo lebih dari 40 tahun. Mas Gun selalu punya jawaban tentang sesuatu,” kata Hanafi, disambut tempuk tangan penonton.

Sementara, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang berkesempatan menyampaikan sepatah dua kata mengatakan, terjadinya perang kebudayaan adalah dengan hadirnya usaha menghilangkan ideologi sebuah bangsa, terutama dengan beredarnya berita hoaks, dan ujaran kebencian.

Namun, dengan adanya kesenian, maka nilai luhur bangsa akan tetap terjaga. “Melalui seni, kita sungguh amat berharap agar nilai-nilai luhur bangsa itu, terus terjaga,” kata Moeldoko.

Perhelatan itu disebut-sebut paling bergengsi yang pernah dilakukan. Sebab dua kolaborator ini selama enam bulan berhasil menampilkan 217 karya seni yang begitu menggairahkan.

“Selama ini, mitos seniman itu dikenal sendiri, sebagai individu tunggal, dari membuat sketsa sampai merealisasikan sebuah lukisan. Tapi, selama 6 bulan ini, Goenawan Mohamad dan Hanafi melakukan proses dengan sangat organik, bekerja bersama atas dasar saling percaya,” ungkap Kurator Agung Hujatnikajenong, yang memilih lukisan-lukisan itu untuk dipamerkan.