Yuk, Dukung Bersama Asian Games 2018!

Energy of Asia, Asian Games 2018 di Taman Ismail Marzuki, di antara pengunjung di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sabtu, 9 Juni 2018. (Foto: KPJ))

Jakarta, Kabarpidiejaya.com | Beberapa bulan lalu, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat menjadi tempat nongkrong yang paling asik bagi kami. Saya dan beberapa teman acap kali nongkrong di tempat ini karena selain makanannya yang murah, jarak tempuh juga tidak terlalu jauh dari kosan saya di jalan Cikini 1.

Dari tongkrongan ini, saya tahu bahwa pada bulan Agustus 2018, akan dihelat Asian Games 2018 di Palembang dan Jakarta. Saya tahu acara akbar yang sudah ditunggu-tunggu setelah 56 tahun ini dari box-box iklan yang banyak terdapat di area lesehan TIM. Box yang bertuliskan 18th Asian Games 2018 itu terdapat di dua pintu pintu lesehan TIM. Sementara, di sisi kanan dekat pintu keluar, terdapat pula tulisan panjang Energy of Asia, disertai tiga maskot Asian Games seperti kaka badak bercula satu, bhin bhin burung cenderawasih, dan atung rusa bawean.

Kabarnya, pemilihan maskot ini bertujuan untuk mendukung World Wide FundĀ  for Nature (WWF) Indonesia untuk menghentikan perdagangan satwa lindung. Sebagaimana diungkap Presiden Indonesian Asian Games Organizing Committee (INASGOC) dalam sejumlah media. Adapun makna dibaliknya maskot tersebut adalah:

Kaka Badak Bercula Satu yang dinilai sebagai salah satu hewan dengan populasi langka. Saat ini, hewan ini hanya tersisa sekitar 50-60 ekor. Hewan ini dianggap sebagai salah satu simbol kekuatan.

Selanjutnya, ada Bhin bhin Burung Cenderawasih. Burung yang terdapat di Pulau Irian dan Pulau Aru, Indonesia ini oleh pelaksana Asian Games 2018 disimbolkan sebagai strategi. Di mana para peserta Asian Games 2018 nanti diharapkan mampu memberukan strategi terbaiknya untuk menjadi juara.

Adapun yang terakhir adalah Atung Rusa Bawean. Maskot ini dipilih mendampingi dua maskot lain karena dianggap sebagai lambang kecepatan. Tentu dengan harapan yang sama pada poin dua bahwa semua peserta diharapkan menjadi yang tercepat dan terbaik dalam setiap ajang perlombaan.

Sebagaimana diketahui, Asian Games adalah sebuah ajang olahraga yang paling ditunggu-tunggu oleh Indonesia. Dalam berbagai referensi, kegiatan empat tahunan ini pertama sekali diadakan di Manila pada tahun 1913 sebagai lambang kerjasama antar tiga negara saat itu seperti Kerajaan Jepang, Kepulauan Filipina, dan Republik Tiongkok.

Meskipun untuk tujuan kerjasama, sejarah pernah mencata bahwa ajang olahraga ini sempat dihentikan pada tahun 1938 lantaran Jepang saat itu tengah menyerbu Tiongkok. Meskipun begitu, pada tahun 1951, kegiatan ini dilangsungkan kembali di New Delhi, itu pun setelah rembukan antar para kontingen saat berada di London saat mengikuti Olimpiade.

Rembukan ini, mungkin tidak akan pernah terwujud jika saja Guru Dutt Sondhi, seorang administrator olahraga asal India itu tidak mengusulkan ide tersebut kepada para pemimpin kontingen saat itu. Kala itu, Sondhi ingin menciptakan Pertandingan Kejuaraan Timur Jauh. Namun, lagi-lagi perhelatan olahraga tersebut tidak dapat diselenggarakan sesuai kesepakatan di Shanghai lantaran perang saudara yang terjadi di China. Oleh Guru Dutt Shondhi, perhelatan itu kemudian diadakan di India.

Pada tahun berikutnya, 12-13 Februari 1949, Asian Games kembali diformalkan menjadi Asian Games Federation (AGF) di Patiala House, New Delhi. Dengan begitu, para delegasi pun mulai menyusun dan menerima konstitusi. Adapun anggota di dalamnya adalah Afganistan, Burma, Srilanka, India, Nepal, Pakistan, Filipina dan Thailand, termasuk Indonesia di dalamnya.

 

Menjadi Tuan Rumah

Seorang pedangang bersender di box iklan Asian Games 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu, 9 Juni 2018. (Foto: KPJ)

Sejak tahun 1951, Indonesia adalah salah satu negara yang tidak pernah absen ikut ajang perlombaan ini. Saat pertama kali tampil, Indonesia hanya berhasil memboyong lima perunggu dari enam cabang olahraga yang dipertandingkan. Hal tersebut terulang lagi pada tahun 1954. Bahkan, Indonesia saat itu minus karena hanya mendapatkan tiga perunggu dari delapan ajang olahraga yang dilombakan.

Pada tahun berikutnya, Indonesia masih juga belum mampu bersaing dengan negara lain. Sebab, saat itu Indonesia hanya berhasil membawa pulang enam perunggu, tidak ada perak dan emas. Namun, hal itu berbalik pada tahun 1962, dimana saat itu Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games.

Saat menjadi tuan rumah, Indonesia tidak mau kalah di kampung halaman sendiri. Itu terbukti dengan pencapaian Indonesia berada pada peringkat kedua dari 12 negara yang ikut serta dalam ajang itu. Pada kesempatan itu, Indonesia menunjukkan kematangan diri sebagai tuan rumah dan siap bersaing dengan tamu yang dijamunya. Saat itu, Indonesia didatangi oleh 1.460 atlet untuk memperebutkan medali pada 15 cabang olahraga yang diperebutkan.

Dukung Bersama Asian Games 2018

Box Asian Games 2018 di gerbang Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 9 Juni 2018). (Foto: KPJ)

Kini, 2018 telah datang. Begitu pun dengan Asian Games 2018 yang akan mengentak jagat Indonesia. Sebagai insan muda Indonesia, rasanya tak berlebihan bahwa dukungan kita untuk perhelatan Asian Games ini adalah sebuah keharusan. Sebab, mendukung Indonesia menjadi juara adalah bentuk jihad kita kepada negeri ini.

Maka dari itu, ayo dukung bersama Asiang Games 2018 sebagai ajang pendewasaan diri. Ajak teman dan kerabat untuk melihat langsung cabang olahraga yang kita sukai. Atau datang dan dukung atlet yang selama ini kita jadikan idola dalam berbagai kesempatan.

Tak ada kata yang paling berharga saat kita ingin menjadi orang yang dapat memberikan sesuatu kepada negeri ini. Misalnya dengan Dukung Bersama pagelaran Asian Games 2018 yang akan diselenggarakan di Palembang dan Jakarta.

Terakhir, Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan internasional itu pada tahun 1962 di Jakarta. Kini, pada 2018 mendatang, kita kembali dipercaya sebagai tuan rumah untuk acara yang sama.

Tentu saja ini bukan hal mudah yang didapatkan. Ada kerja keras hingga akhirnya Indonesia terpilih kembali sebagai tuan rumah Asian Games. Setelah 56 tahun menunggu, maka September 2018 nanti mata dunia kembali melirik Indonesia.

Lantas, apa yang kita dapat lakukan? Kita tak perlu apa-apa. Yang kita butuhkan adalah rasa keindonesiaan saja dengan memberi Dukung Bersama. Tentu kita masih ingat betul, pada tahun 2014 lalu, Indonesia menduduki peringkat 17 dari 37 negara yang bersaing.

Asian Games yang diadakan di Korea Selata itu menempatkan Republik Rakyat Tiongkok berada pada posisi pertama dengan perolelah 151 emas, 108 perak, dan 83 perunggu. Sedangkan Indonesia hanya mampu meraih 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu.

Untuk itu, tentu Indonesia sebagai tuan rumah kali ini akan mampu menyabet banyak kemenangan dalam berbagai cabang olahraga. Tak ada salahnya kita, sebagai putra putri Indonesia bertumpah tanah air di sini tak malu untuk memberikan semangat jiwa kita kepada mereka yang berlaga.

Datang dan melihat secara langsung Asian Games 2018 di Palembang atau di Jakarta tak akan membuat kita miskin. Kesempatan ini tentunya menjadi Energi of Asia yang bisa kita tunjukkan kepada dunia bahwa sebagai tuan rumah kita dapat melakukan apapun demi kebaikan.

Menjadi tuan rumah untuk kedua kali, Asian Games 2018 kali ini akan mempertandingkan 40 cabang olahraga, 32 antaranya ialah cabang olahraga olimpiade. Selebihnya adalah cabang non-olimpiade dengan perkiraan akan dihadiri oleh 15000 atlet dari 45 negara partisipan, termasuk Indonesia.