Arief Syaifuddin: Sistem Rujukan Online BPJS Kesehatan Masuk Fase Kedua

JAKARTA, Kabarpidiejaya.com | Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Arief Syaifuddin mengatakan, uji coba rujukan online sudah memasuki fase kedua setelah sebelumnya pada 15 Agustus 2018 lalu resmi diterapkan.

“Banyak hal positif yang diperoleh dari uji coba fase pertama antara lain terkumpulnta data rumah sakit rujukan beserta dokter spesialis dan jadwal praktek. Lalu tereduksinya Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP),” kata dia dalam acara Ngopi Bareng JKN di Jakarta Pusat, Senin, 3 September 2018.

Selain itu, dalam fase kedua ini Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) juga senantiasa terus melengkapi dan meningkatkan data kompetisi dan sarana.

Arief menjelaskan, dari uji coba pada fase pertama pihaknya mengklaim sudah 19.937 FKTP yang sudah dapat mengakses aplikasi PCare secara realtime dan siap memasuki fase kedua.
Untuk FKTP yang belum mendapatkan akses aplikasi PCare, kata dia, disarankan menggunakan rujukan manual terlebih dahulu. “Kendalanya biasanya terjadi pada jaringan komunikasi saja,” kata dia.

Selain masalah jaringan, pihak BPJS juga menerima berbagai masukan kontrukstif dari FKTP, FKRTL dan para peserta terhadap beberapa kondisi yang terjadi di lapangan.

Misalnya, jelas dia, kurangnya data dokter spesialis/subspesialis, mapping rumah sakit rujukan yang belum sesuai, dan beberapa kasus lain yang belum diakomodir oleh sistem rujukan online.

Menanggapi hal tersebut, Arief mengakui pihaknya hingga saat ini terus berusaha untuk melakukan berbagai penyempurnaan seperti memudahkan FKRTL dalam melakukan edit data kompetensi dan sarana dalam aplikasi Health Facilities Information System (HFIS), memperbaiki data mapping FKRTL (Rumah Sakit dan Klinik Utama), dan menambah fitur untuk rujukan penyakit tertentu seperti Kanker, Hemodialisa, Thallasemia, Hemofilia, Transplantasi Hati, Transpalantasi Ginjal, TB, Jiwa dan Kusta.

“Kami mengharapkan faskes juga terus secara proaktif memberikan data-data profile pelayanan di rumah sakit yang dibutuhkan dalam implementaso rujukan online melalui HFIS,” kata Arief.

Karena itu, dirinya berharap melalui penyempurnaan yang dilakukan pihaknya itu maka diharapkan pelaksanaan rujukan online fase kedua ini dapat dirasakan manfaatnya oleh peserta. “Pada jangka panjang, digitalisasi rujukan ini akan mendekatkan peserta JKN-KIs dengan fasilitas yang ada serta mengurangi antrian dalam pelayanan,” katanya.

Sementara, Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan, Budi Mohammad Arief, mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah mengkoordinasikan dengan berbagai pihak di daerah.

“Hal itu kita lakukan untuk mengenalkan sistem rujukan online kepada peserta, FKTP, FKRTL dan dinas kesehatan di daerah tersebut. Selain itu, kita juga telah mendengarkan keluhan dari faskes primer, rumah sakit dan pasien agar petugas faskes primer bisa mengenali profil rumah sakit, agar pelayanan yang diberikan kepada peserta maksimal,” kata dia.

Diketahui, sampai dengan 1 September 2018, tercatat 201.660.548 jiwa penduduk di Indonesia telah menjadi peserta JKN-KIS. BPJS Kesehatan juga telah bermitra dengan 22.467 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 2.430 rumah sakit (termasuk klinik utama), 1.546 apotek, dan 1.091 optik.